Selasa, 09 September 2014

Pencinta Lingkungan Sejak Jadi Seorang Ibu



Nadya Hutagalung, Aktivis Peduli Lingkungan

Perempuan pecinta masak ini, suka sekali membaca dan berkomitmen
tinggi untuk menjaga lingkungan sekitarnya dengan hal-hal kecil yang
bisa ia lakukan, salah satunya adalah selalu membawa sedotan kaca ke
mana pun ia pergi agar tidak menggunakan sedotan plastik sekali pakai.
Sebenarnya kebiasaan cinta lingkungan sudah ditanamkan oleh sang ibu
sejak Nadya masih kecil, mulai dari hal-hal yang kecil seperti tidak
membuang sampah sembarangan dan aktifitas daur ulang. Namun karirnya
sebagai model dan VJ yang didominasi oleh lingkungan yang serba glamor
dan gemerlap membuat Nadya tidak bisa fokus dengan gaya hidup seperti
itu.

Nadya baru mulai benar-benar aktif sebagai pecinta lingkungan sejak
menjadi seorang ibu. Nadya mendeskripsikan perannya dengan kalkulasi
50% bekerja untuk diri sendiri & keluarga dan 50% untuk lingkungan.
Setelah memiliki anak, sepertinya Nadya mulai semakin peduli dengan
keadaan bumi di mana anak dan cucunya kelak akan tinggal. Itu sebabnya
dia memiliki lembaga bernama Green Kampoeng yang aktif melakukan
kegiatan serta kampanye yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat
tentang pentingnya menjaga lingkungan dan mempromosikan gaya hidup
sehat.

Dedikasi Nadya tidak hanya sebatas wacana karena di rumahnya di
Singapura, Nadya menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Salah satu
contohnya adalah Nadya memodifikasi rumahnya sedemikian rupa agar
keluarganya tidak perlu menggunakan AC untuk penyejuk ruangan. Nadya
juga kemana-mana selalu membawa sedotan kaca sehingga dia tidak perlu
menggunakan sedotan plastik sekali pakai untuk minum yang hanya
menambah debit jumlah sampah plastik yang butuh puluhan tahun untuk
terurai. Lewat akun Twitter &Instagramnya, Nadya juga kerap berbagi
resep dan foto minuman sehat berupa campuran jus buah dan sayur segar,
menginspirasi teman dan penggemarnya menjalani hidup sehat lewat
makanan dan minuman lewat tampilan hidangan yang sangat artistik dan
menggoda selera. Tidak hanya sebatas gaya hidup sehat dan cinta lingkungan, Nadya juga memberi perhatian yang serius terhadap wildlife. Ia menjadi Ambassador for the World Wildlife Fund's Earth Hour untuk Singapura selama empat tahun terakhir.

Nadya Hutagalung dan Penghargaan

Akibat dedikasinya sebagai aktivis peduli lingkungan, pada tahun 2012
Nadya masuk tiga besar dalam The International Green Awards Most
Responsible Celebrity bersama aktivis lingkungan dari Inggris, Livia
Firth dan Ian Somerhalder. Artinya Nadya “mengalahkan” sejumlah nomine
lainnya seperti George Clooney, Penelope CruzRobert Redford, Viviene
Westwood, dan Erykah Badu. Nadya juga bergabung dengan Green School yang berlokasi di Bali dan baru saja mendapat anugerah Greenest School On Earth dari lembaga Green Building Council di Amerika.

Nadya juga pernah mendapat perhatian dari stasiun TV kaliber
internasional CNN pada tahun 2009, menyebut Nadya sebagai Singapore’s
Top 20 Most Influential People dan sebagai pekerja industri televisi
dengan eksistensi yang stabil dan dalam jangka waktu yang lama,
majalah Elle menganugerahi Nadya sebagai Best Host Television pada
2009.



Meski demikian, ibu tiga orang anak ini mengaku masih punya banyak
keinginan. "Aku ingin melakukan banyak hal, karena aku merasa hidupku
baru dimulai. Aku ingin menciptakan sesuatu, membuat film, memasak,
bermimpi, melawan untuk kebebasan, meningkatkan kesadaran untuk
perkara-perkara yang membuatku peduli dan seharusnya membuat yang lain
peduli. Aku ingin menemukan keseimbangan antara pekerjaan, keluarga,
kegiatan sosial, dan praktik spiritual, yang sangat mudah dikatakan
namun luar biasa sulit untuk secara jujur mengatakan apakah kita telah
mencapainya," katanya seperti dikutip dari The Weekender.

Minggu, 07 September 2014

Nadya Hutagalung, Tinggalkan Sekolah Demi Modeling



Nadya Hutagalung merupakan sosok pekerja keras dan tak mudah putus asa. Ia yang mendedikasikan hidupnya untuk lingkungan, bisa menjadi salah satu contoh perempuan sempurna untuk representasi sosok perempuan yang cantik luar dalam. Berikut kisah Nadya Hutagalung.

Nadya Hutagalung, Tinggalkan Sekolah Demi Modeling

Nadya Hutagalung lahir di Sydney, Australia, 28 Juli 1974. Ia
merupakan blasteran, ayahnya dari Indonesia dan ibunya Australia.
Sejak usia 12 tahun, Nadya sudah menggeluti dunia model. Ia rela
meninggalkan dunia pendidikan demi fokus dengan kariernya di dunia
modeling. Nadya kini menetap di Singapura. Berkarier di Australia sebagai model, diceritakan Nadya sangat sulit.Karena ia dianggap bukan sosok yang cantik dan ideal. Oleh karena itu,ia hijrah ke Tokyo, Jepang untuk menapaki kariernya di dunia model. “Karena di sana mereka sudah punya standar perempuan cantik itu seperti apa, yaitu berambut pirang dan seratus persen bule. Sementara aku malah dianggap aneh dengan rambut gelap dan kurus tinggi”, ujarnya

menjelaskan awal musabab karier modelnya justru dimulai di luar
Australia. Pilihannya tak salah. Nadya kemudian menjelma menjadi model top dunia. Tak ayal, banyak produk kecantikan dan produk lainnya mengnginkannya
untuk menjadi model iklan. Di Indonesia, pada tahun 90’an, Nadya dikenal sebagai fotomodel berwajah cantik dan unik yang kerap menghiasi halaman fashion majalah remaja dan pria dewasa. Ia juga kerap terlihat di layar kaca
membintangi berbagai produk iklan.

Tak hanya sukses di dunia modeling, Nadya juga piawai dalam memandu
sebuah acara. Ia dikenal sebagai sosok Video Jockey (VJ) MTV Asia
pertama kali yang mulai mengudara di Singapura pada tahun 1995. Tahun
2012, Nadya dipercaya menjadi host sekaligus juri ajang pencarian
model tingkat Asia : Asia Next Top Model yang diprakarsai supermodel
Amerika, Tyra Bank. Selain itu, Nadya juga dikenal sebagai aktivis peduli lingkungan dan pebisnis handal. Ia memiliki produk perhiasan dan usaha desain dengan nama OSEL yang berarti Cahaya Jernih (Inggris: Clear Light).
Meski sukses tanpa mengenyam pendidikan, tetapi Nadya juga tidak
pernah menekankan soal hubungan kecerdasannya dengan bangku sekolah
yang dulu dia tinggalkan untuk fokus di dunia modeling. Sebab,  Nadya
juga sangat mendukung pentingnya pendidikan.

Nadya Hutagalung, Lebih Nyaman Jadi VJ MTV

Sebagai model, kadang Nadya diharuskan para klien memakai busana
dengan gaya tertentu dan diam berpose selama beberapa waktu didepan
banyak orang, dan itu bukan sesuatu yang membuat Nadya merasa nyaman.
“Aku merasa kurang nyaman ketika berada di antara banyak orang dan
harus diam tak bergerak dan tak berbicara karena aku suka berinteraksi
dengan orang, berbagi dan saling bertukar pendapat dan pemikiran”
ucapnya.







Mungkin itu sebabnya ketika ditawari menjadi Video Jockey (VJ) stasiun
TV musik paling terkenal di era 90’an yaitu Music Televison (MTV) yang
baru mengudara pertama kalinya di Asia dengan nama MTV Asia yang
bermarkas di Singapura, Nadya langsung mengambil kesempatan itu.
Program pertama yang di-host Nadya adalah Morning Mania, lalu kemudian
menjadi host untuk progran andalan MTV Asia lainnya seperti MTV Land
dan MTV Most Wanted. Lewat program ini Nadya seperti menemukan medium
yang tepat untuk mengekplorasi bakat di luar modelling. Karena selain
memutar video musik, Nadya juga berinteraksi serta berbagi informasi
ringan dengan pemirsa MTV dimana keahlian public speaking Nadya
benar-benar diuji.

Gagal Ke Senayan, Di Calon Menjadi Walikota Depok



Nurul Arifin, Menyoal Tak Lolos ke Senayan

Sebelum Komisi Pemilihan Umum resmi mengumumkan hasil Pemilihan Legislatif,  Nurul Arifin yang menjabat sebagai wasekjen Partai Golkar pesimis bisa lolos ke Senayan. Prediksinya terbukti. Ia kala itu yakin tidak lolos ke Senayan dengan berbagai alasan kecurangan Pemilu. Nurul mengungkapkan, pemilu legislatif 2014 seperti perang di Suriah. Perang melawan saudara sendiri."Teman makan teman ibarat perang saudara. Pedang itu ibarat uang yang membabat habis saudaranya sendiri," ungkap Nurul.

Dia tak ingin mengatakan siapa yang bermain curang dengan politik uang sehingga dirinya kalah. dia juga tak mau menyebut apakah politik uang dilakukan oleh rekan separtainya. Nurul lebih meimilih legowo menerima kekalahan. "Saya terma dengan legowo. tapi tim saya tidak terima karena banyak kejanggalan," ucapnya.

Nurul yang berada di Dapil Jabar VII ini menjelaskan , kecurangan terjadi diduga dilakukan oleh KPUD. salah satunya surat yang diperjualbelikan dan formulir c6 yang harusnya asli, faktanya foto copy.
"KPU Pusat mungkin sudah benar dalam menjalankan mandat. tetapi di tingkat bawah bahwa oknum ini tidak bekerja sesuai sistem yang bagus," ucapnya.

Nurul Arifin, Kandidat Calon Walikota Depok

Nurul Arifin mengakui hingga saat ini pihaknya banyak menerima usulan dan permintaan dari beberapa kelompok masyarakat dan tokoh masyarakat Kota Depok agar dirinya maju menjadi calon Walikota Depok dalam Pilkada Kota Depok tahun 2015. Namun kata Nurul, dirinya menyerahkan semuanya kepada otoritas Partai Golkar, yang berwenang mengusung siapa calon yang maju dalam Pilkada Depok tahun depan. "Yang terpenting, saya siap jika memang itu sudah merupakan satu keputusan partai," kata Nurul. Karenanya Nurul meminta semua pihak yang berharap dirinya maju agar menunggu keputusan Partai Golkar.

Nurul menyatakan pada 2011 lalu, dirinya mengaku jauh lebih tertarik menjadi calon Wali Kota Depok dibandingkan menjadi Gubernur Jawa Barat.
"Saya gak ingin maju sebagai calon Gubernur Jabar. Mungkin kalau pun saya mau paling jadi Wali Kota Depok," katanya.
Nurul mengaku bercita-cita membangun Kota Depok sebagai salah satu wilayah di Provinsi Jawa Barat yang merupakan daerah penyangga ibu kota DKI Jakarta, agar menjadi lebih baik."Cita-cita saya adalah membangun Kota Depok, sebagai salah satu kota metropolis yang ideal, dan sama majunya dengan kota besar lainnya," kata Nurul.




Tampaknya, keinginan Nurul akan mendapat halangan dari internal DPD Partai Golkar Kota Depok. Nurul yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar ini, dianggap tak punya kontribusi apa-apa untuk Partai Golkar Depok serta konstituennya di sana. Sehingga, Nurul, berpeluang tak akan diloloskan menjadi kandidat Wali Kota Depok. Menanggapi hal itu, Nurul Arifin, mengaku sudah tahu adanya anggapan tersebut melalui pernyataan Ketua DPD Partai Golkar Depok, Babai Suhaimi, beberapa waktu lalu. Menurutnya itu hal yang biasa terjadi di internal partai. Yang terpenting, kata Nurul, dirinya kini tinggal menunggu ketetapan dan mandat dari Partai Golkar saja.
Saat ditanya bagaimana peluangnya menjadi calon yang diputuskan DPP Partai Golkar, Nurul mengaku belum tahu. "Belum tahu soal itu. Pilkadanya masih satu tahun lagi. Jadi apapun masih bisa terjadi," paparnya.

Jumat, 05 September 2014

Nurul Arifin, Terjun ke Politik




Jadi Politisi Golkar

Berawal dari belum banyaknya suara perempuan terwakili di Parlemen, sehingga kebijakan yang dihasilkan sedikit yang mengakomodasikan kepentingan perempuan, Nurul Arifin tergerak untuk terjun ke politik. "Harap maklum, jumlah laki-laki yang lebih banyak ketimbang perempuan di lembaga itu menyebabkan lebih banyak pula kaum laki-laki yang terlibat dalam proses pembuatan pelbagai kebijakan dan perundang-undangan," ucapnya.

Kenapa harus dipersoalkan, dan kenapa juga isu perempuan menjadi begitu penting?  "Kartini pernah mengatakan, pendidikan pertama seorang anak adalah di pangkuan perempuan. Ini menunjukkan bahwa kehadiran perempuan sangat berkaitan atau berorientasi pada kualitas manusia yang dididiknya. Tapi bagaimana hal itu akan terlaksana kalau kaum perempuan tidak secara merata diberi kesempatan untuk melakukannya? Di tingkat pengambilan keputusan, perempuan perlu mendapat akses dan fasilitas yang memadai, agar menghasilkan sesuatu yang mempermudah perempuan menjalankan tugasnya sebagai “pendidik” dengan sebaik-baiknya. 

Tapi bagaimana mungkin hal itu akan terwujud kalau di tingkat praktik keseharian saja, banyak sekali batasan bagi perempuan? Informasi dan fasilitas hidup seperti pendidikan dan kesehatan, misalnya, yang diperoleh perempuan relatif tidak sebanyak laki-laki. Ketika harus memutuskan untuk membiayai sekolah anak, umpamanya, banyak orang tua yang dengan cepat menentukan bahwa laki-laki lebih mendapat prioritas. Sehingga banyak perempuan yang putus sekolah atau bahkan bahkan buta huruf," tuturnya.

Di bidang kesehatan pun tak jauh berbeda. Angka kematian ibu melahirkan dan balita yang masih tinggi, antara lain disebabkan karena tiadanya prioritas yang diberikan kepada perempuan. Di bidang lain tak kalah memprihatinkannya. Kekerasan terhadap perempuan, umpamanya, adalah realitas sosial yang setiap saat terjadi dan setiap hari kita dengar beritanya," lanjutnya.
Kondisi itulah,  yang menurut Nurul menyebabkan kualitas rata-rata perempuan Indonesia masih rendah. "Dengan kualitas yang masih rendah, bagaimana mungkin perempuan bisa diharapkan menjadi pendidik yang baik? Bagaimana mungkin mereka akan memberikan sesuatu yang berkualitas bagi pendidikan dini anak-anaknya?

Perbaikan kondisi perempuan tidak terjadi secara nyata, antara lain karena tak banyak norma dan kebiasaan yang menguntungkan perempuan. Sebagai produk perundang-undangan, keadaannya pun tak jauh beda akibat mayoritas pengambil kebijakan di parlemen adalah kaum laki-laki. Tidak ada pemahaman yang cukup baik terhadap kepentingan dan kebutuhan perempuan.Karena itu, saya pribadi memandang perlu adanya kesempatan bagi perempuan untuk ikut terlibat dalam pengambilan kebijakan di tingkat parlemen. Agar kebijakan yang dikeluarkan lebih sensitif terhadap kepentingan dan kebutuhan perempuan," ucapnya.

Dengan masuk  ke dunia politik, Nurul berharap bisa mewakili kaum perempuan dengan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama pendidikan dan kesehatan untuk perempuan dan anak-anak, serta penghapusan kekerasan terhadap perempuan. "Saya berharap, apa yang saya lakukan ini bisa diterima sebagai sumbangsih saya kepada masyarakat, khususnya kaum perempuan. Karena pilihan untuk terjun ke dunia politik yang sebenarnya — dengan bergabung bersama partai politik — adalah keputusan yang sangat besar dalam hidup saya. Sekaligus, membawa konsekuensi dan tanggung jawab yang sangat berat. Karena itu, saya juga mengharapkan kontrol dari masyarakat dan teman-teman aktivis agar saya tetap konsisten pada komitmen dan tidak larut dengan kepentingan partai yang tidak sesuai dengan misi dan visi saya," paparnya.

.
Nurul Arifin, Menjadi Anggota DPR

Sejak terpilih sebagai salah satu perempuan berkualitas untuk kandidat anggota Legislatif versi LSM Cetro (Center for Electoral Reform), sebuah lembaga pengkajian masalah politik dan pemilu, 21 April 2003, banyak partai politik yang menawari Nurul  untuk bergabung. Salah satunya adalah Golkar.  Kemudian, lewat berbagai pertimbangan dan pemikiran, Nurul pun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Golkar. "Saya menyadari sekali bahwa Golkar memiliki citra jelek pada masa lalu. Namun, saat ini keinginan sebagian besar warga Golkar untuk menjadi Golkar baru merupakan hal yang patut saya pertimbangkan. Karena saya selalu berpedoman bahwa tiada yang abadi dalam dunia ini kecuali perubahan. Jadi, saya percaya bahwa niat baik sebagian besar warga Golkar untuk menjadi Golkar baru perlu dihargai. Lagi pula, jika ingin tetap eksis, Golkar juga harus mempertimbangkan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Yakni kondisi yang lebih demokratis dalam berbangsa dan bernegara. Jadi, saya optimis bahwa Golkar yang saya masuki saat ini bukanlah Golkar yang kita kenal pada zaman Orde Baru lalu. Keyakinan inilah yang membuat langkah saya mulai mantap," ujarnya.

"Visi saya yang berorientasi pada perubahan pandangan tentang perempuan dalam kondisi kekinian sejalan dengan visi Partai Golkar yang selalu terbuka pada pembaruan. Ideologi partai yang salah satunya berbasis pada kemajemukan yang ada di Indonesia sejalan dengan nurani saya yang juga memandang Indonesia sebagai sebuah negara yang sangat plural," tambah Nurul.




Berpayung di bawah Partai Golkar dan menaruh minat mendalami politik Nurul kemudian terpilih sebagai anggota DPR periode 2004-2009 lalu 2009-2014 di Komisi II yang membidangi pemerintahan dan politik. Namun, karirnya di parlemen kini mandek karena gagal terpilih lagi pada pemilu 9 April 2014 lalu.
Ia mengaku tidak terpilih lagi menjadi anggota DPR karena menjadi korban rekan separtai di daerah pemilihannya. Akan tetapi, saat ini karir politiknya terbilang cemerlang. Mengenai suka dukanya menjadi juru bicara Prabowo-Hatta Nurul lalu bercerita. "Ketua Umum (Golkar) juga pernah marah ke saya. Kubu orang lain juga pernah marah ke saya. Tapi itu justru membuat saya pintar," ujarnya.

Kamis, 04 September 2014

Sang Ratu Disko



Nurul Arifin, merupakan  bintang film yang bermetamorfosa menjadi seorang aktivis dan anggota DPR yang mumpuni. Beken sebagai artis seksi, nama Nurul berkibar melalui berbagai film pada dekade 1980-an. Kemudian Nurul terpanggil untuk membela hak-hak perempuan. Berikut kisah Nurul Arifin

Nurul Arifin, Berawal dari Ratu Disko

Nurul Qomaril Arifin atau lebih dikenal dengan nama Nurul Arifin, lahir di Bandung, 18 Juli 1966. Ia merupakan anak ke-10 dari 11 bersaudara pasangan Moh. Yusuf Arifin dan Anne Marie. Pada tanggal 28 Desember 1991, Nurul menikah dengan Mayong S. Laksono. Dari pernikahannya mereka dikaruniai dua anak, Maura Magnalia Madyaratri dan Melkior Mirari Manusaktri.

Pernikahan beda agama antara Nurul Arifin - Mayong Suryo Laksono sempat menjadi bahan kajian studi Islam. Boleh tidaknya pernikahan beda agama dalam Islam sering menjadikan pasangan ini sebagai contoh kajian karena kapasitasnya mereka sebagai public figure. Mayong Suryo Laksono beragama Katolik dan Nurul Arifin beragama Islam. Lulusan S2 Universitas Indonesia, jurusan ilmu politik ini, mengawali karier dari dunia hiburan. Nurul Arifin beken lewat film Warkop DKI pada era 80’an. Sebelum memasuki dunia layar lebar, ia sering mengikuti kompetisi di daerahnya, Bandung, Jawa Barat seperti mengikuti ajang Ratu Disko dan sebagainya.   
“Film pertama saya ”Hati Yang Perawan” arahan sutradara Chaerul Umam pada 1984 adalah Film yang jadi langkah start -saya di dunia film. Film berikutnya seperti Naga Bonar dan lain-lain,” kata Nurul. 

Kariernya di layar lebar cukup cemerlang. Berbagai penghargaan sempat diraih.  “Meski dinobatkan menjadi artis terlaris tahun 1989, Saya ‘tidak sekedar’ main dalam film-film saya. Saya terus meningkatkan kemampuan dan kualitas acting karena pada dasarnya saya adalah pekerja keras. Syukurlah, kerja keras saya membuahkan hasil dengan kesempatan menjadi nominator untuk perolehan piala citra dalam lima kali festival film Indonesia,” ucapnya. 
Ia yang kini menjadi politisi bersyukur dengan karier yang telah dirintisnya di dunia hiburan. dengan membintangi beberapa judul film dan sinetron, namanya dikenal banyak orang.  “Tak bisa disangkal karier saya di dunia film dan dunia entertainment inilah yang membuat nama dan wajah saya dikenal publik seluruh Indonesia,” ucapnya.

Lewat kerja kerasnya, Nurul Arifin mendapat banyak penghargaan di antaranya seperti Putri Logo Jabar 1982, Ratu Disko Jabar 1983, Putri Fotogenik Jabar 1983, Remaja Berbusana Terbaik 1984, Nominasi Citra sebagai aktris terbaik 1988 dalam film 'Istana Kecantikan',  Nominasi Citra sebagai pemeran pembantu 1989 dalam film 'Pacar Ketinggalan Kereta', Nominasi Citra sebagai aktris terbaik 1990 dalam film 'Dua dari Tiga Laki-Laki', Nominasi Citra sebagai aktris terbaik 1992 dalam film 'Catatan Si Emon', Aktris Terpuji Festival Film Bandung 1990 dalam film 'Kipas-kipas cari Angin', Artis terlaris 1989, Artis favorite & Idola Se SUMUT,  Menerima beasiswa dua kali dari Ford Foundation untuk mengikuti studi jender dan seksualitas tahun 1999 dan 2000 di FISIP Universitas Indonesia, Menerima penghargaan dari Yayasan Pelita Ilmu sebagai "Artis perduli AIDS 1999", Peraih Penghargaan Buletin Sinetron sebagai Artis Peduli AIDS,  Penerima RS M.H. Thamrin Award sebagai Artis Peduli AIDS, Terpilih sebagai Fun Fearless Female 2002 (versi majalah Cosmopolitan), Terpilih sebagai wakil Indonesia oleh Ford Foundation dalam Asia-Pacific Festival Conference of Women in The Art di Filipina dengan tema Changing she images women re-ma(in)ing the world, Terpilih sebagai salah satu perempuan berkualitas untuk kandidat anggota Legislatif versi LSM Cetro, Penerima penghargaan utama dari Badan Narkotika Nasional Indonesia sebagai Artis Peduli Narkoba.

Nurul Arifin, Menjadi Aktivis Sosial

Berkat sebuah film yang ia bintangi, Nurul berkenalan dengan dunia baru dan mempertemukannya dengan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS (ODHA). Sejak saat itu Nurul lalu memutuskan untuk menjadi seorang aktivis, karena korban HIV/AIDS kebanyakan adalah perempuan.
“Semua keterlibatan saya sebagai aktivis adalah faktor keinginan saya untuk menjadi seseorang yang berarti bagi orang lain. Penderitaan korban Aids, Narkoba ataupun kekerasan terhadap perempuan membuat saya tertarik untuk terlibat secara aktif menjadi sukarelawan,” kata wanita yang hobi nonton, baca buku dan Travelling ini. 




Menjadi aktivis, awalnya hanya sekedar memenuhi kebutuhan bathin dalam menolong sesama. Namun, justru memberikan banyak penghargaan baginya.
"Sesuatu hal yang saya anggap sebagai “bonus”. Misalnya saja saya berhak menerima beasiswa dua kali dari Ford Foundation untuk mengikuti studi jender dan seksualitas tahun 1999 dan 2000 di FISIP Universitas Indonesia. Lalu penghargaan yang saya terima dari Yayasan Pelita Ilmu sebagai “Artis perduli AIDS 1999″. Tahun 2003, saya terpilih sebagai salah satu perempuan berkualitas untuk kandidat anggota Legislatif versi LSM Cetro (2003); Penerima penghargaan utama dari Badan Narkotika Nasional Indonesia sebagai Artis Peduli Narkoba (2003); mendapat penghargaan dari Kementerian Lingkungan Hidup (duta Lingkungan Hidup); Penghargaan dan duta Lingkungan Hidup WALHI;  Menerima Penghargaan Nasional Wira Kencana dari BKKBN Pusat 2004; Terpilih sebagai Young Global Leaders dari World Forum - Swiss. (Januari 2005)," paparnya.

Selasa, 02 September 2014

Raka Tertangkap Polisi Membawa Ectasy



Rano Karno dan Kehidupan Pribadi

Rano menikah dengan Dewi Indriati pada 8 Februari 1988 dan mengadopsi 2 orang anak, Raka Widyarma dan Deanti Rakasiwi. Sebelumnya Rano pernah menikah dan berakhir dengan perceraian. Rumah tangga Rano dengan Dewi jauh dari gosip. Keluarga Rano terbilang keluarga yang harmonis.
Kehidupan  rumah tangga Rano sempat menjadi sorotan media ketika anak pertamanya, Raka Widyarma ditangkap kepolisian resort Bandara Soekarno Hatta atas tuduhan narkoba. Rak ditangkap di kediaman temannya di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan  pada 6 Maret 2011.
Menghadapi situasi tersebut, Rano mengaku berat. Sebagai orangtua, ia akan membantu Raka untuk sembuh dari ketergantungan narkoba dengan direhabilitasi.
“Ini situasi yang tidak bisa dihindarkan. Mudah-mudahan ini menjadi pembelajaran bagi saya. Jujur ini tanggung jawab pribadi saya. Saya juga berharap ini menjadi hikmah bagi dia (Raka),” kata Rano beberapa saat setelah anaknya ditangkap.

Ia yang saat itu menjabat menjadi wakil Gubernur berjanji tidak menggunakan posisinya untuk mengintervensi kasus narkoba yang menjerat putranya. Ia menyerahkan proses hukum yang berlaku di Indonesia. Rano dalam kesempatan itu membantah jika dirinya kecolongan dalam hal pengwasan anak. Sebab sejak kecil, ia dan istrinya sangat memperhatikan Raka.




Rano menyatakan, anaknya memang mengalami depresi karena memendam tekanan bathin lantaran diejek teman-temannya sebagai anak angkat. Raka diketahui pernah mengkonsumsi obat penenang yang diberikan dokter sejak SMA. Namun Rano tak menyangka, Raka mengganti konsumsi obatnya dengan narkotika sehingga menyebabkan terjerumus dalam kasus hukum.
Rano optimis Raka akan sembuh dari ketergantungan pada narkotika. Sebab, ia memiliki harapan agar Raka bisa menggatikan posisinya untuk menjalankan usaha rumah produksinya, Karnos film yang telah dibangunnya sejak tahun 1990’an.
“Saya yakin Raka pasti sembuh lewat rehabilitasi,” paparnya.
Harapan Rano Karno tampaknya akan bisa terwujud. Sebab, setelah melewati masa persidangan, hakim menjatuhkan vonis hukuman kepada Raka satu tahun menjalani rehabilatisi. Vonis itu jatuh pada tanggal 30 Agustus 2012. Kala itu hakim menilai dari 5 butir ectasy yang ditemukan sebagai barang bukti, disimpulka jika Raka adalah pengguna, bukan pengedar.

Karier Politik " Si Doel "



Rano Karno dan Karier politik

Di awal tahun 2007, nama Rano Karno mencuat sebagai salah satu Calon Wakil Gubernur (Cawagub) DKI Jakarta. Namun, Rano memilih untuk tidak meneruskan niatnya “bertarung” menjadi salah satu Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta.  
Kemudian, di penghujung 2007, ia mencalonkan diri sebagai Calon Wakil Bupati (Cawabup) Tangerang mendampingi Ismet Iskandar pada Pilkada Tangerang 2008. Pasangan ini terpilih sebagai pemenang Pilkada. Bung Rano pun menjadi Wakil Bupati Tangerang untuk periode 2008-2013.

Pada tahun 2011, Rano mencalonkan diri menjadi Calon Wakil Gubernur Banten mendampingi Ratu Atut Chosiyah periode 2012-2017. Mereka pun akhirnya terpilih sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur Banten. Rano kini menjadi Pelaksana Tugas Gubernur Banten menggantikan tugas Atus Chosiyah yang bermasalah dengan hukum.
Rano resmi sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Banten setelah pemerintah setempat menerima Keputusan Presiden No.38/P Tahun 2014 tentang pemberhentian sementara Ratu Atut Chosiyah sebagai Gubernur Banten dan pengangkatan Rano Karno sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Banten, Selasa, 13 Mei 2014.

Tugas yang dijalankan Rano Karno sebagai Plt Gubernur Banten mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2008 atas perubahan PP Nomor 5 Tahun 2006.
Rano mengatakan tak grogi walaupun tidak memiliki persiapan khusus untuk menjadi Gubernur Banten. Rano mengatakan, sejak Atut Chosiyah bermasalah dengan hukum, dirinya sudah mulai bekerja selayaknya gubernur. Namun dia mengakui, banyak urusan administrasi yang terhambat lantaran tetap memerlukan tanda tangan Atut. "Tapi, selama enam bulan ini, masyarakat jadi tahu kami sebenarnya kerja keras," kata Rano.
Setelah menjabat, Rano justru mendapat desakan untuk mundur dari jabatannya sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubenur Banten oleh sebagian warganya. Yang terbaru desakan datang dari sejumlah organisasi mahasiswa di Banten yang tergabung dalam Penegak Demokrasi Banten untuk Rakyat (Pendobrak).
Para mahasiwa menilai Rano selalu mengumbar janji mundur dengan alasan yang dibuat-buat.
“Posisi Rano Karno adalah kepala daerah, walaupun masih berstatus Plt Gubernur. Pemimpin yang selalu mengumbar janji tetapi tidak menepatinya adalah indikasi bahwa pemimpin tersebut tidak memiliki komitmen. Karena itu, kami mendesak Rano Karno mundur dari jabatannya, sebagaimana janjinya yang sering diumbar selama ini," tegas Muchtar Ansori Attijani, Koordinator Aliansi Pendobrak Banten di Aula Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten, 14 Juli 2014.

Rano diketahui pernah berencana akan mundur karena tidak diberi wewenang oleh Gubernur Banten yang saat itu masih dipegang Ratu Atut Chosiyah yang sekarang sudah dinonaktifkan karena tersangkut kasus suap sengketa Pilkada Lebak terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar dan kasus korupsi pengadaan alat kesehatan.






Rano juga sesumbar akan mengundurkan diri kalau Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK terhadap pengelolaan APBD Banten tidak mencapai predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Namun, ketika LHP BPK terhadap pengelolaan APBD Banten 2013 mendapat predikat under disclaimer, Rano Karno tidak berani lengser. Rano berdalih, janji untuk mundur hanya sekadar trigger agar seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKDP) meningkatkan kinerjanya.

Terakhir, Rano kembali menyatakan niatnya untuk mundur dari jabatan sebagai Plt Gubernur jika pasangan Capres Jokowi-JK tidak memenangkan pemilihan di Banten. Saat dikonfirmasi kembali terkait kekalahan Jokowi di Tanah Banten atas sikapnya untuk mundur, rano berkelit "Kan nasional Jokowi menang," Kata Rano.