Kamis, 14 Agustus 2014

Dubber Menjadi Pintu Kepopuler Indra Bekti



Sejak Kecil Indra Bekti sudah bercita-cita untuk berkiprah di dunia hiburan. Ia termasuk orang yang tak pernah mengenal lelah untuk mengasah diri. Berawal dari seorang penyulih suara (dubber), nama Indra Bekti kini tidak asing lagi bagi penikmat tayangan layar kaca. Lewat banyolannya, dia mampu menyihir acara yang dibawakan menjadi “hidup”dan “segar”. Indra termasuk orang yang tak pernah puas dalam berkarier. Berikut kisah tentang Indra Bekti

Memiliki Bakat Seni Sejak Kecil

Indra Bekti memiliki nama lahir Bekti Indratomo. Ia lahir di Jakarta 28 Desember 1977 sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara dari pasangan pasangan Aruji Prianto dan mendiang Syafrida. Ia  besar di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, dari sebuah keluarga sederhana.
Mengenai nama Indra Bekti, ia berkata jika nama tersebut didapatnya setelah terjun ke industri hiburan Tanah Air. “Biasalah, artis ganti nama biar lebih akrab di telinga masyarakat,” ucapnya.

Semasa kecil,  Indra termasuk anak yang aktif dan boleh dibilang nakal. “Aku paling suka bermain. Terkadang, permainan yang kulakukan cukup membahayakan juga. Misalnya saja memanjat genting atau pohon,” akunya.
Bakat seninya memang sudah menonjol sejak kecil. Boleh dibilang Indra doyan tampil sejak kecil. Dia sudah suka banget menyanyi, baca puisi di rumah, sekolah atau di depan siapa pun. “Mamaku  sampai bilang ‘Kayaknya anak ini punya bakat’.  Ucapan  mama terbukti, ketika ikut kejuaraan baca puisi dan akting, hampir dipastikan aku dapat juara,” ujarnya.

Keinginan untuk menjadi presenter juga sudah terlihat sejak Indra masih kecil. Ia sewaktu SD, setiap belajar di rumah, berlagak seolah-olah penyiar televisi yang sedang membaca berita atau narasi. Aku bergaya dengan duduk membelakangi tembok. “Belajar dengan cara membaca pelajaran seperti penyiar teve justru masuk ke otakku,” kata Indra.

Menginjak SMP lalu ke SMA, aktivitas Indra semakin beragam. Mulai dari ikut kegiatan OSIS, paduan suara, sampai menjadi anggota Paskibraka.
“Aku jadi siswa yang termasuk menonjol di sekolah. Buntutnya sejak SMP aku sudah sering dikelilingi cewek-cewek. Asyik,” ucapnya.
Awalnya Indra tak pernah berpikir ingin menjadi artis , walau ia aktif dalam kegiatan kesenian di sekolahnya. Ia dahulu ingin menjadi pengacara.
Setelah tamat SMP, Indra melanjutkan  ke Sekolah Menengah Industri Pariwisataan (SMIP). Itu atas saran dari mamanya agar aku cepat mendapat pekerjaan.






Menjadi Dubber Awal Kesuksesan Indra Bekti

Jalan mewujudkan cita-cita Indra Bekti memasuki dunia hiburan Tanah Air, mulai terbuka lewat tawaran sulih suara (dubbing) dalam film kartun Candy-Candy yang populer di era tahun 1990-an.
”Kalau nggak salah, dibayar per tokoh Rp 30 ribu. Aku girang banget karena bisa menghasilkan uang sendiri,” ucapnya. 

Lewat sulih suara tersebut, Bekti termotivasi dan terus belajar. Selepas SMA, dia siaran di radio dan akhirnya bisa tampil di televisi sebagai pemandu acara Tralala Trilili bersama Agnes Monica. Dari memandu acara tersebut, Indra mendapat pelajaran berharga soal public speaking. Pecinta topi ini pun lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan kuliah di jurusan Public Speaking di London School.

Usai membawakan acara Tralala Trilili, Indra mendapat banyak tawaran untuk menjadi pemandu acara. Ia semakin dikenal saat berhasil membawakan acara Ceriwis. Sejak itu, ia mengaku karier dan rejekinya semakin mengkilau.
Pada tahun 2001, Indra juga sempat menjajal kemampuannya bernyanyi dengan membentuk grup FBI dengan single andalan Aku Bahagia . Namun sayang, ia dan grupnya kurang mendapat tempat di blantika musik Indonesia. FBI pun tenggelam.

Kemudian, pada tahun 2011, Indra mencoba jalur solo  bekerjasama   dengan label Sony Music.Indra juga dikenal sebagai pemain film. Ia bermain dalam film 5 Sehat 4 Sempurna (2002), Cinta 24 Karat (2003), Biarkan Bintang Menari (2003), Bad Wolves (2005), Namaku Dick (2008), Dikejar Setan (2009), Get Married 2 (2009), Rumah Tanpa Jendela (2011), Jenderal Kancil The Movie (2012).

Rabu, 13 Agustus 2014

Memeluk Islam Menenangkan Jiwa Dian Sastro



Menjadi Mualaf

Saat Isra Miraj tahun 2006 lalu, Dian Sastrowardoyo memutuskan untuk berpindah keyakinan. Ia memilih masuk Islam bukan lantaran popularitas, namun karena kemauan hatinya. Meski sang ibu menganut agama Katolik, namun Dian mengaku bahwa itu tak menjadi masalah. Menurutnya, sang ibu bukanlah orang yang picik. Beliau tidak mempermasalahkan soal keyakinan yang dipilih sang putri. "Dari hatiku sendiri," kata Dian Sastro kala menjawab tentang dirinya yang merubah keyakinan. 

Dian mengaku belajar banyak tentang Islam dari Omnya. Ia juga mengaku berpindah keyakinan bukan karena paksaan. Setelah menjalani ajaran agama Islam, Dian merasa nyaman. "Yang penting kita iklas," ucapnya.
"Perasaanku lega. Karena aku masuk Islam bukan karena popularitas. Yang membuat aku memilih Islam karena aku ingin berserah diri dan pasrah kepada Allah. Karena Islam bagi saya adalah berserah diri dengan ikhlas. Dan aku sudah yakin benar akan pilihanku. Dalam belajar agama, saya bukanlah orang suka menghapal atau hanya sekedar membaca saja. Saya ingin menghayati setiap ayat-ayat Al-Quran. Jadi tidak sekedar bisa mengucap dan menghapal, tapi kita juga harus tahu artinya. Sumpah mati aku ikhlas,"

Selain dari omnya, Dian banyak mempelajari Islam melalui buku. "Ada guru juga yang ngajarin, tapi lebih banyak aku baca buku," ucapnya.
Dian yang kala itu pacaran dengan Iyun yang beragama muslim, mengaku terbantu untuk mempelajari agama Islam. "Iya. Aku suka tanya-tanya ke dia,". Kala itu Dian juga tak peduli dengan pemikiran orang yang mengidentikan Islam dengan teroris. "Itu hanya kebohongan. Bagi saya itu hanya politik," ucapnya. Dari pihak keluarga bagaimana?

Kebetulan saya hanya sama mama. Mama saya beragama katolik, dan beliau bukanlah orang yang picik. Dia tahu bahwa agama apapun, kalau memang yang menjalankan itu ikhlas, maka akan baik bagi dirinya sendiri. Jadi mama merasa tidak punya hak untuk melarang siapa saja dalam memilih agamanya masing-masing. Waktu pertama-tama mama memang kaget, karena dikiranya saya akan pergi jihad. Tapi setelah aku jelaskan, mama akhirnya dapat menerima dan mengerti. Malah sekarang, kalau aku lupa sholat, mama yang sering kasih ingat.


Pria -Pria yang Berhasil Meraih Hati Dian Sastro 

Nama Dian Sastro semakin populer sejak artis kelahiran 16 Maret 1982 ini membintangi film 'Ada Apa Dengan Cinta'. Perannya sebagai Cinta membuat Dian Sastro menjadi idola baru para remaja. Sejak saat itu, kehidupan Dian selalu menjadi sorotan. Demikian juga kisah cintanya.
Sebelum menikah dengan Indraguna Sutowo pada 18 Mei 2010 lalu, beberapa pria pernah hinggap di hati artis cantik tersebut.
Hayunaji atau kerap disapa Iyun diketahui sebagai pacar pertama Dian. Iyun kala itu bekerja di Bank Universal sebagai Investor Relations – Corporate Secretary & Public Relations. Sebelumnya Iyun kuliah di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi. 

Iyun juga anggota band Discus sebagai penabuh drum. Iyun menyumbangkan suara drum untuk album soundtrack film A2DC yang digarap Anto Hoed dan Melly. Dalam penggarapan album itulah Dian bertemu Iyun.
Dalam album yang berisi 11 lagu itu, Iyun main drum untuk 4 lagu, termasuk Tentang Seseorang yang indah itu. Sama-sama sibuk, Dian dan Iyun belum pernah lagi bertemu sampai A2DC di-premiere-kan di Jakarta pada Februari 2002 lalu.




Saat menjalin kasih dengan Iyun, Dian terpaut usia 10 tahun lebih muda dari Iyun. “Sampai sekarang saya masih suka geli mengingat Iyun tuh sudah kuliah waktu aku baru 10 tahun. Ya ampuuuun!” kata Dian.
Namun asmara mereka kandas di tengah jalan. Setelah putus dengan Iyun, Dian dikabarkan menjalin kasih dengan pembalap  Moreno Soeprapto. Kisah cinta Dian dengan Moreno tak bertahan lama. Keduanya memilih untuk mengambil jalan masing-masing.

Setelah itu, pemilik nama Diandra Paramitha Sastrowardoyo ini menautkan hatinya kepada Abi Yapto. Jalinan cinta antara Dian Sastro dengan Abi Yapto berjalan cukup lama. Sayang, lagi-lagi jalinan cinta Dian dengan Abi tak berjalan mulus. Hubungan cinta mereka pun berakhir.

Setelah putus dari Abi, Dian cukup lama tak terlihat menggandeng pria. Pada saat itu, bintang sabun Lux ini mengaku menikmati masa kesendiriannya tersebut. Tetapi, tak lama setelah itu, pada saat menghadiri sebuah acara di bilangan Jakarta Pusat, Dian Sastro terlihat menggandeng seorang pria berkacamata. Usut punya usut, pria itu bernama Warman Nasution dan berprofesi sebagai penyiar di radio Prambors.

Sayang, Dian tak mau berbagi kebahagiaannya karena punya pacar baru.  Dian beralasan dia tak mau orang lebih mengenal dirinya itu dari berita-berita asmaranya dibanding prestasinya. Asmara Dian dengan Warman juga tak berhasil. Kemudian pada tahun 2010 Dian hadir dengan kabar bahagia. Ia mengaku akan melepas lajang dengan Indraguna Sutowo, putra pengusaha Adiguna Sutowo. 

Romansa cinta Dian Sastro dan Indraguna Sutowo ternyata telah terbina dua tahun lamanya. Selama ini, mereka sengaja diam dan tak mengumbar kisah cintanya ke publik. Dian dilamar Indraguna bertepatan hari valentine.  
"Sebenarnya kita sudah menjalani hubungan diam-diam sekira dua tahunan. Kita memang low profile, diam-diam saja. Kita lebih kepada berdoa daripada gembar-gembor yang kayaknya kurang bagus," kata  Dian, usai dilamar Indra di kediamannya, Jalan Bangka Raya No 49, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (14/2/2010) malam.

Dengan Indraguna Sutowo, Dian melabuhkan cintanya ke pelaminan. Pada 18 Mei 2010, ia resmi menikah di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Senayan, Jakarta.
Kemudian pada tanggal 17 Juli 2011, Dian melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Ia dan suami memberi nama Syailendra Sutowo kepada putra pertama mereka.

Senin, 11 Agustus 2014

Kehilangan Sosok Ayah


Masa Kecil yang Harus Dilalui dengan Prihatin

Orangtua Dian bercerai saat Dian kelas 3 SD dan sosok ayah yang terasa asing oleh Dian meninggal pada 1995, persis ketika ibu Dian sekolah di Filipina. “Waktu ayah dan ibu bercerai, aku hampir tak merasakan apa-apa. Juga waktu ayah meninggal,” ungkapnya. 

Dian dibesarkan oleh ibunya yang amat percaya pentingnya pendidikan, Dian tumbuh sebagai pribadi yang banyak menahan keinginan. “Saya nggak pernah minta dibelikan baju, nggak berani minta dibelikan mainan. Kalau mau barang baru, ya harus menabung dulu sampai uangnya cukup,” kenangnya.
Sesudah jadi Gadis Sampul pun, Dian masih hidup sederhana. Berbeda dengan teman-temannya di sebuah sekolah, pemilik rambut panjang berperawakan 162 cm/46 kg ini berpenampilan biasa-biasa saja. 

Dia berangsur-angsur mempermodis penampilannya setelah bisa cari duit sendiri. “Mama kecewa dan protes melihat aku jadi gaya. Tapi aku membuktikan diri tetap anak baik dengan mempertahankan prestasi sekolah,” katanya. Dian selalu mengingat, akan perkataan ibunya. Dan itu menjadi bekalnya berkarier.  “Mama bukan orang kaya. Mama nggak sanggup punya anak yang nggak pintar.”  Dian pun membuktikannya dengan lulus sarjana Universitas Indonesia jurusan Filsafat. 






Mengenal Sosok Ayah Setelah Dewasa

Dian pernah merasa tak nyaman dengan keluarganya. Ayahnya suka bermeditasi, tidak bekerja, jarang makan, dan mandi, serta hidup menyendiri. “Seperti tidak pernah punya ayah saja,” kata Dian.

Setelah besar, baru Dian terpanggil untuk mengenal ayahnya lewat buku-buku yang dulu dilahap almarhum. Mata Dian pun terbuka. Ternyata, ucapnya, ayah tak seaneh yang ia dikira dan malahan punya kemiripan dengannya.
"Terus terang nih, saya pernah malu punya ayah seperti almarhum bapak saya. Dia belajar sastra Cina di Universitas Indonesia dan banyak yang bilang dia itu idealis dan berani. Dia rajin bermeditasi dan sewaktu meninggal memeluk agama Budha. Tapi yang paling saya ingat dari bapak sifatnya yang nyentrik. Saking nyentriknya, saya sampai malu. Dulu waktu saya kecil, bapak masih suka jemput saya ke sekolah. Kadang dia lupa jam berapa saya pulang. Bapak datang dengan baju berantakan dan mobil yang kotor. Padahal orangnya good looking. Tapi karena nggak terurus, badannya gemuk. Teman-teman suka heran lihat penampilan bapak dan tanya di mana bapak bekerja. Wah, saya malu dan bingung mau jawab apa. Soalnya yang cari uang kan ibu," kenangnya.

Setelah mengenal sosok ayahnya, Dian sudah tidak malu lagi dengan sosok sang ayah. "Ternyata banyak juga orang yang kenal bapak dan sekarang baik-baik sama saya. Waktu kuliah dulu, ayah seangkatan dengan Om Tino Saroengallo yang memproduseri Pasir Berbisik. Jadi Om Tino itu baik sekali, menjaga saya seperti bapak sendiri. Karena bapak jarang di rumah, saya lebih dekat dengan ibu. Justru kalau bapak sedang mau dekat, saya jadi merasa canggung. Dia lebih banyak tinggal sendiri dan hidupnya nggak teratur. Saat meninggal di badannya banyak penyakit, dari lever, asam urat, empedu, juga maag,".

Dituturkan Dian, kepriabadian Ayahnya jauh sekali dengan ibunya. "Ibu lain sekali dari ayah. Dia bekerja sangat keras dan saya diajar untuk mandiri. Waktu kecil, saya suka ditinggal ibu yang sibuk kerja," ucapnya.
Dian tak pernah dimanjakan oleh ibunya. melalui ibunya, Dian menjadi sosok yang mandiri.  "Biarpun sekarang saya sudah bisa cari duit, itu belum dirasa cukup oleh ibu yang mementingkan pendidikan. Ibu bilang, yang sekarang saya dapat hanya sementara sifatnya. Keberhasilan saya sekarang lebih banyak ditentukan faktor keberuntungan, jadi nggak masuk hitungan ibu. Saya harus terus belajar, punya karier, kalau mungkin punya usaha sendiri," ucapnya.

Minggu, 10 Agustus 2014

Bakat Alami Dian Sastro

Dian Sastro dikenal sebagai aktris berbakat yang penuh dengan totalitas. Hobinya adalah membaca, nonton dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni. Nama Dian Sastro semakin populer sejak  membintangi film Ada Apa Dengan Cinta. Perannya sebagai Cinta membuat Dian Sastro menjadi idola baru para remaja. Sejak saat itu, kehidupan Dian selalu menjadi sorotan. Berikut Kisah Dian Sastro



Biografi

Diandra Paramitha Sastrowardoyo, begitu nama lahir dari artis yang kini kerap disapa Dian Sastro itu. Ia lahir di Jakarta, 16 Maret 1982 dari pasangan Ariawan Rusdianto Sastrowardoyo dan Dewi Parwati Setyorini. Dian adalah salah seorang cucu tokoh pergerakan nasional Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo. 
Dian Sastro dikenal sebagai aktris berbakat yang penuh dengan totalitas. Hobinya adalah membaca, nonton dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni.

Dian memulai kariernya di dunia hiburan sejak tahun 1996 ketika dirinya menjadi juara 1 di ajang GADIS Sampul yang diadakan majalah GADIS. 
Sejak saat itu, Dian mulai menggeluti dunia seni peran. Ia pun mulai memasuki dunia film pada tahun 2000 lewat film Bintang Jatuh karya Rudi Sujarwo. Namun film tersebut tidak ditayangkan di bioskop dan hanya diedarkan indie di kampus-kampus.  Di film tersebut Dian beradu akting dengan Marcella Zalianty, Garry Iskak dan Indra Birowo.

Film selanjutnya di tahun 2001, Pasir Berbisik yang menyandingkannya untuk beradu akting dengan Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Didi Petet.
Pada tahun 2002, Dian bermain dalam film remaja berjudul Ada Apa Dengan Cinta karya Rudi Sujarwo. Ia beradu akting dengan Nicholas Saputra.  Untuk film ini, Dian dan Nicholas disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan film nasional. Selanjutnya Dian kerap bermain dalam film yang berkualitas seperti Putri Gunung Ledang (2004), Banyu Biru (2005), Ungu Violet (2005), Belahan Jiwa (2005), 3 Doa 3 Cinta (2008), Drupadi (2008), Pengantin Cinta (2010). Ada juga film seri Dunia Tanpa Koma (2006) dan Film pendek (Bukan Kesempatan yang Terlewat)

Dalam film Drupadi, Dian Sastro bertindak sebagai produser. 
Selain dikenal lewat perannya di  dunia film, Dian Sastro juga banyak membintangi iklan. Salah satu iklan yang mengharumkan namanya adalah iklan sabun Lux. Ia didaulat menjadi bintang Lux pada 2002. Ia juga kerap menjadi ikon produk kecantikan. Dian juga sering tampil dalam pegelaran teater. Ia juga suka membaca puisi. Dian juga pernah menjadi pembawa acara kuis Super Miliarder 3 Miliar yang ditayangkan di ANTV.
Untuk mengurus masalah kontrak, Dian mempercayakan kepada ibundanya. "Mama yang ngurusin kontrak dan aku ngikutin dia saja. Kebetulan aku punya tante yang berprofesi pengacara, jadi bisa diajak diskusi." ucapnya.


Penghargaan  

Lewat totalitasnya dalam berakting, Dian Sastro kerap mendapat penghargaan.  Dalam film Pasir Berbisik, Dian dianugerahi pemeran wanita terbaik pada Festival Film Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Perancis (2002). Dalam film Ada Apa Dengan Cinta, menurut situs Wikipedia, Dian berhasil meraih tujuh penghargaan antara lain sebagai berikut ; Aktris Terbaik versi Festival Film Indonesia, Aktris Terbaik versi Festival Film Bandung, Aktris Terbaik versi Festival Film Fare, Aktris Terbaik versi Festival film Indipenden, Aktris Terbaik versi Festival Film Internasional, Aktris Terbaik versi Panasonic Award, Aktris Terpavorit versi Panasonic Award.
Film 3 Doa 3 Cinta, yang  merupakan film dengan nuansa religius yang dibesut oleh sutradara Nurman Hakim, di ajang International Festival of Asian Cinema Vesoul, 3 Doa 3 Cinta berhasil membawa pulang penghargaan Grand Prize of the International Jury.




Dian juga berkesempatan menjadi pembawa obor di ajang Olimpiade 2008.
Selain sebagai aktris ia pernah memiliki rubrik sendiri di majalah GADIS yang bernama Kata Dian, di rubrik tersebut ia menyalurkan bakat menulisnya dan berkomunikasi dengan pembaca majalah Gadis. 
Dian adalah lulusan jurusan filsafat FIB UI yang tak jarang dimintai bantuan sebagai asisten dosen oleh para seniornya. Sebelumnya Dian sempat pindah dari Fakultas Hukum UI. Dian mengenyam pendidikan di Don Bosco (TK), Strada Van Lith II, Duren Sawit, Jakarta (SD), Vincentius Otista, Jakarta (SMP), dan Tarakanita I, Pulo Raya, Jakarta (SMA).

Jumat, 08 Agustus 2014

Dewi Sandra Memutuskan Berhijab


Pada setiap kesempatan Dewi Sandra selalu menceritakan perubahan gaya hidup yang lalu dan kini. Menurutnya, dengan berhijab batin terasa tenang, damai, dan segala tindakan yang dilakukanya semua dipertimbangan dengan baik. Inilah hidayah yang ia dapatkan dari Tuhan, karena dengan berhijab tanngung jawab sepenuh bukan kepada sesama manusia, tetapi dirinya dengan Tuhan.  Dewi merasa bersyukur, perjalan hidup dimasa lalu adalah sebuah catatat panjang. Dan kini semua kembali ditata dengan baik, untuk mendapatkan kerberkahan hidup.





Dewi Sandra, Berhijab

Perubahan yang dilakukan Dewi dilakukan setelah dirinya berpisah dengan suami keduanya Glenn Fredly. Lambat laun Dewi mulai melakukan perubahan, salah satunya dengan mengenakan hijab. Dewi mantap berhijab setelah menikah dengan Agus Rahman.
Diketahui pada tahun 2012, saat menghadiri pernikahan Olla Ramlan-Aufar, Dewi Sandra mulai mengenakan jilbab. Namun, ia belum yakin dengan penampilannya. Sampai akhirnya, pada tahun 2013, Dewi pun memantapkan hati untuk terus berhijab.
“Setahun terakhir berdeabt dengan diri karena perlu pertanggungjawaban yang besar untuk pakai jilbab. Semuanya berjalan learning by doing. Saya nggak mungkin langsung pintar seperti orang yang sudah mengunakan jilbab sebelum saya. Semuanya harus ada pembelajaran,”

Dewi pun mengaku jika tak mudah menghadapi godaan saat memutuskan mengenakan hijab.”Saya terus berdoa dalam shalat maupun keadaan apa pun. Selalu mohon petunjuk dan lindungan dari Allah. Biar bagaimanapun bekerja di dunia entertainment ataupun di dunia apa pun pasti akan ada ”ujian dan godaan”-nya, tetapi kita harus pintar-pintar memilih lingkungan, teman, ataupun pekerjaan yang insya Allah halal dan berkah," ujar Dewi.
Perubahan yang dilakukan Dewi dengan mengenakan hijab membuatnya juga merubah gayanya dalam bermusik. Termasuk juga yang dilakukan Dewi dalam dunia film. Dewi memang memutuskan untuk tidak akan mau jika ada peran yang memintanya melepas hijab.

Ini menjadi pertanyaan yang sering saya dapatkan. Tentu bermusik adalah suatu passion saya dan mencari ”formula baru dan tepat” agar saya masih nyaman dan bisa bermusik sesuai karakter saya. Saya tetap ingin jujur dengan karya-karya saya, dan mungkin ini akan menjadi tantangan sekaligus step berikut yang harus saya jalani," ujarnya.
Dewi juga menyadari konsekwensi yang harus dihadapinya ketika mengenakan hijab. Dengan keputusannya mengenakan hijab, Dewi kini sering menjadi motivator untuk kaum wanita yang ingin mengenakan hijab.
"Motivasi utama saya adalah untuk memperbaiki diri. Insya Allah berhijab bukan saja sekadar fashion statement atau kain yang menutupi aurat, melainkan hijab juga merupakan identitas saya sebagai wanita Muslim. Hijab menjadi pengingat saya sekaligus rem saya dari semua larangan, dan mudah-mudahan mendekatkan saya kepada Allah. Namun, saya juga manusia yang masih belajar tentu tidak sempurna. Karena itu saya terus berdoa semoga saya terus istiqomah," ucapnya.


Dewi Sandra, Mendalami Agama


Seiring perubahan dalam penampilannya, penyanyi Dewi Sandra terus mendalami ilmu agama. Dewi mengatakan tak semudah yang terpikir olehnya dalam  menjalankan syariat agama, seperti salat.
“Aku diminta ustad salat setiap azan selesai. Aku pikir gampang, tapi nggak semudah itu ternyata," ujarnya. 

Selain salat, kini Dewi masih punya banyak 'tugas' agama lainnya untuk ia pelajari. Salah satunya memahami Al-Quran.
Dewi mengungkapkan memahami bacaan Quran menjadi PR-nya untuk mengenal Islam lebih dalam.
"Yang jelas saya ingin bisa paham Al-Quran sekarang. Saya yakin, di sana ada banyak jawaban yang saya cari dari hidup," tuturnya.

Kamis, 07 Agustus 2014

Asmara Dewi Sandra




Beberapa nama diketahui pernah berhubungan dengan Dewi hingga akhirnya menikah. Tahun 2000, Dewi menikah dengan aktor Surya Saputra. Dewi memutuskan menikah dengan Surya Saputra, yang saat itu lebih dikenal sebagai salah satu personel Cool Colour.

Asmara Dewi Sandra

Pernikahannya dengan Surya berlangsung pada 9 Oktober 2000. Pernikahannya itu dilangsungkan secara diam-diam. Pernikahan keduanya baru terungkap setelah Dewi dapat masalah tentang status kewarganegaraannya bahkan terancam di deportasi. 

Pernikahan itu kandas setelah berjalan 4 tahun. Surya memasukkan gugatan cerainya tanggal 3 Desember 2004 dan mereka resmi bercerai pada tanggal 16 Februari 2005. Setelah menjanda, Dewi  menikah dengan penyanyi Glenn Fredly pada 3 April 2006. Dewi dan Glenn sudah saling kenal sejak lama, yaitu sejak tahun 1997. Saat itu Glenn dan Dewi beberapa kali terlibat dalam acara yang sama. 

Menikah Dengan Glen

Pernikahan Dewi dan Glenn dilakukan secara diam-diam. Pernikahan mereka menimbulkan kontroversi karena Glenn sebelumnya memang digosipkan sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Dewi sebelumnya. Resepsi pernikahan Dewi dan Glenn diadakan di kawasan Tirtha Bali, Pecatu, Kuta Selatan dan tertutup bagi wartawan. Pada tanggal 12 Maret 2009, Dewi kembali menjanda untuk kedua kalinya.

Gagal dua kali dalam membina rumah tangga, rupanya menjadi pelajaran berharga untuk membangun bahtera rumah tangga. Dewi lebih selektif dalam mencari suami. Ia pun diketahuin menikah dengan pria bukan dari kalangan selebritis, Agus Rahman pada 11 Desember 2011. Pernikahan ketiga Dewi dihadiri dua orang saksi yakni Bastillah Noor dan Mahmuddin, S.E. Dan yang bertugas menikahkan kedua mempelai adalah kepala KUA Jagakarsa,  Lukman Hakim.



Kisah cinta keduanya pun ternyata sudah berlangsung sejak lama. Agus sebelumnya memang kerap berhubungan dengan orang-orang dari 'Star Management'. Dewi Sandra kebetulan juga menjadi salah satu artis dalam manajemen tersebut. Dari situ pun awal dari kisah mereka. Beberapa lama setelah pertemuan pertama itu, tampaknya ada satu rasa yang tak bisa mereka dihindari. Bahkan semakin hari, hubungan keduanya semakin intens.
"Perkenalan dan saling dekat itu tentunya melewati banyak fase, sampai akhirnya saya melihat Agus ini serius dan bertanggung-jawab," ungkap Dewi


Rabu, 06 Agustus 2014

Model Majalah Pria Dewasa




Perjalanan Dewi Sandra yang penuh prestasi terbilang unik. Dahulu ia sempat menjadi salah satu artis kontroversi karena gaya berbusananya. M ajalah FHM, bahkan sempat menobatkannya sebagai artis terseksi di Tanah Air pada tahun 2004. Kini, ia  tampil berbeda dengan memutuskan berhijab.  Berikut Kisah Dewi Sandra


Dewi Sandra, Berawal dari Model

Dewi Sandra lahir di Brasil, 3 April 1980, dari pasangan suami istri  John Killick dan Prihatini Killick. Meski lahir di Brasil, masa kecil Dewi dihabiskan di Singapura. Orangtuanya  yang multicultural, di mana Ayahnya  berdarah Inggris dan Ibu berdarah Betawi-Yogyakarta (ibu), membuat Dewi tumbuh menjadi pribadi terbuka dengan banyak masukan dan influence.
Sejak kecil, banyak cita-cita yang diinginkannya. "Saat masih kecil cita-cita saya cukup banyak. Mau jadi dokter, mau jadi guru, dan mau menjadi penyanyi. Alhamdulillah salah satu dari cita-cita saya tercapai." kata Dewi.
Ketertarikan Dewi di dunia entertainmen dimulai dari dunia modeling. Dewi memulai kariernya di dunia hiburan sebagai model di usia belasan tahun. Sampai akhirnya, musisi Anang Hermansyah dan Indra Lesmana membuatkan sebuah album kompilasi untuk Dewi bersama delapan model. Album tersebut berjudul Menari-nari

Dari album tersebut, nama Dewi Sandra mencuat. Kemudian Dewi  mencoba menjadi penyanyi solo dengan mengeluarkan album berjudul Kurasakan (2008) dan menyusul album kedua , Tak Ingin Lagi (2000). Tak disangka album kedua tersebut mendapat respon  positif dari pasar sampai Dewi mendapat penghargaan AMI Awards sebagai album terbaik 2001.
Kemudian, wanita dengan tinggi 165 cm ini butuh dua tahun untuk menyelesaikan album ketiganya, Kuakui yang dirilis pada tahun 2004. Album ketiga Dewi masih seperti dua album sebelumnya, beraliran R&B. Namun kali ini Dewi memasukkan unsur etnik dalam album rekamannya. Sebut saja adanya unsur musik gamelan Jawa dan Bali.
Setelah namanya dikenal luas sebagai penyanyi, Dewi Sandra tak cepat puas. Ia mulai merambah menjadi presenter acara,  pemain sinetron dan film.

Kepiawaiannya memandu acara, terekam dalam acara Clear Top 10. Dalam acara tersebut,  Dewi meraih penghargaan sebagai Pembawa Acara Musik Wanita Terfavorit Panasonic Awards, selama 5 tahun berturut-turut, dari tahun 1999-2003. Kesuksesan Dewi di dunia hiburan tak terlepas dari peran orangtuanya yang medukung langkahnya. "Alhamdulillah mereka adalah orangtua yang selalu mendukung keinginan anaknya, tetapi ada kewajiban-kewajiban yang harus saya jalani dulu. Seperti menyelesaikan sekolah saya dulu. Alhamdulillah saya diizinkan untuk terjun ke dunia hiburan," ujarnya.


Dewi Sandra, Sedih Sempat Jadi Model  Majalah FHM









Selain telah mengeluarkan album dan juga menjadi presenter, Dewi Sandra juga sempat mengejutkan dengan bersedia menjadi model di majalah dewasa khusus pria, FHM (For Him Magazine). Dalam edisi 6 Januari 2004, FHM memang menampilkan tujuh foto Dewi dengan pose hanya mengenakan pakaian dalam menerawang, bahkan salah satu fotonya hanya menampilkannya memakai sportbra dan celana sport mini.

Lantaran foto superseksinya terpampang di majalah itu, Dewi Sandra pun dicari-cari banyak wartawan. Tentu saja menanyakan bagaimana perasaannya tampil dengan busana minim yang terkesan begitu sensual bahkan tak sedikit orang  yang menilainya cenderung porno.
"Terserah orang mau menilai foto saya seperti apa. Yang pasti, saya tidak telanjang dan saya masih berpakaian. Itu hanya trik kamera yang menjadikan foto terlihat begitu indah," komentar Dewi yang menilai foto tersebut indah ketimbang disebut vulgar atau sejenisnya saat itu.
"Jadi itu bukan foto porno. Saya sama sekali nggak buka-bukaan atau telanjang di foto itu," tegasnya sekali lagi.
Dengan penampilannya yang kini berhijab, Dewi mengaku sedih jika mengenang masa lalunya itu. “Sedih sebenarnya. Karena kalau saya berpikir sekarang saya seperti menjual jiwa saya,”  ujarnya.
Masa lalu memang telah berlalu. Namun bayangan masa lalu itu jua yang  membuat Dewi selalu berurai air mata ketika bersimpuh di hadapan sang Khalik . “I Feel sorry for my self. Seharusnya dulu saya nggak kayak begitu,” ucapnya.