Minggu, 17 Agustus 2014

Robin Membuat Dunia Tertawa

Robin Williams merupakan aktor kawakan yang serba bisa. Puluhan judul film telah dibintanginya. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menyabet penghargaan Oscar untuk aktor pendukung terbaik. Kini aktor Hollywood yang disukai segala usia itu telah tiada pada usia 63 tahun. Ia ditemukan meninggal dunia di rumahnya di California, Amerika Serikat,11 Agustus 2014 . Hasil pemeriksaan sementara polisi, Robin Williams diduga meninggal karena bunuh diri dengan cara gantung diri. Berikut perjalanan hidupnya.



Robin Williams, Awal Karier dari stand Up 

Robin Williams lahir di Chicago, Illinois, Amerika Serikat,  pada 21 Juli 1951. Ia mengawali karier sebagai seorang comedian dari panggung stand up di sebuah klub malam. Sebelumnya, ia sempat belajar teater di Juilliard School .
Akhirnya keberuntungan menghampiri Robin Williams. Ia mendapatkan peran utama pada drama televisi Spin-off Show ‘Mork & Mindy pada tahun 1978-1982. Dalam kesempatan ini, Robin Williams berhasil memperlihatkan improvisasi akting mimik wajahnya.
Dua dekade kemudian, Robin Williams berhasil mencetak prestasi dengan kematangan akting dalam perannya sebagai psikolog pada film Good Will Hunting pada 1997. Melalui film ini, Robin Williams berhasil membawa pulang piala Oscar untuk aktor pendukung terbaik.

Williams  mulai merambah layar lebar pertama ketika berakting dalam film Popeye  dan The World According to Garp. Namun film tersebut termasuk dalam film gagal. Akhirnya ia mulai memantapkan diri di mata penggemarnya ketika main di film Good Morning, Vietnam.
Kemudian, banyak film-film yang dibintanginya. Kebanyakan perannya adalah komikal seperti dalam film The Birdcage dan Mrs. Doubtfire.
Dia juga membintangi film serius seperti dalam Awakenings, What Dreams May Come. Pada tahun 2000-an, pilihan perannya dalam film drama menuai kritikan karena dikatakan terlalu sentimental, khususnya di film Patch Adams, Insomnia, dan One Hour Photo.

Robin sangat dikenal dalam bakat improvisasi dan sulih suaranya. Dia juga berbakat dalam mengubah mimik wajahnya dan dapat berganti karakter dalam waktu yang sangat cepat.
Perannya sebagai pengisi suara karakter Jin dalam film animasi Aladdin, adalah tonggak utama pentingnya pengisi suara dalam film.
Ia diketahui tiga kali menikah dan memiliki tiga anak. Istri pertamanya bernama Valerie Velardi (menikah pada 1978 dan bercerai pada 1988). Kemudian Robin menikah dengan Marsha Garces Williams pada 1989 dan bercerai pada 2008. Pada saat kematiannya, ia meninggalkan istri yang dinikahinya pada tahun 2011, Susan Schneider.

Robin dan Marsha Garces mendirikan Windfall Foundation, sebuah lembaga penggalangan dana untuk banyak lembaga amal. Robin banyak menghabiskan waktu dan energinya untuk amal.


Beberapa Film Terkenal dari Robin Williams







Robbin William telah banyak membintangi film layar lebar. Berikut beberapa film terkenal dari Robin Williams ;

1. Mork & Mindy (1978-1982)

Dalam serial komedi ini, Williams bermain sebagai alien dengan nama Mork. Sapaan yang sering dilontarkannya, “Na-nu, na-nu” pun langsung dikenal. Pam Dawber berperan sebagai Mindy, manusia yang tinggal sekamar dengan Mork. Ia pun menciptakan ciri khas dalam komedi sejak itu. Berkat perannya, Williams meraih satu dari enam Golden Globes pada 1979.

2. Good Morning, Vietnam (1987)

Williams menyabet satu dari tiga nominasi Oscar untuk kategori Aktor Terbaik dalam film ini. Meski tidak menang, ia akhirnya mendapat gelar sebagai Aktor Pendukung Terbaik versi Academy Awards pada tahun 1997 untuk film Good Will Hunting. Ia pun meraih Golden Globe untuk perannya dalam film tersebut.

Film Good Morning, Vietnam sendiri berlatar di Saigon tahun 1965. Williams berperan sebagai penyiar radio terkenal. Dalam profesinya ini, Williams menjadi penyiar yang selalu membuat atasan-atasannya kesal. Para penonton selalu ingat dengan kalimat, “Goooooooood morning, Vietnaaaam!” yang diucapkan Williams.

3. Dead Poets Society (1989)

Tak hanya berperan sebagai aktor komedi, Williams pun mengambil peran dalam film drama. Di film Dead Poets Society, ia menjadi seorang guru bahasa Inggris yang menginspirasi murid-muridnya. Dalam peran ini, ia meraih piala Oscar untuk kategori Aktor Terbaik. Murid-murid memanggilnya dengan, “O Captain! My Captain!”. Ethan Hawke dan Josh Charles ikut berperan sebagai murid Williams.

4. The Fisher King (1991)

Ia mendapat piala Oscar yang ketiga setelah berperan dalam The Fisher King. Williams dinobatkan sebagai Aktor Terbaik, dalam aktingnya sebagai pria tunawisma yang mencari Piala Suci. Selain itu, ia pun memenangkan Golden Globe untuk kategori Aktor Terbaik Komedi atau Musikal.

 5. Aladdin (1992)

Dalam film ini, Williams menunjukkan kemampuan vokalnya untuk mengisi suara tokoh jin berwarna biru. Penghargaan Golden Globe diraih melalui film ini. Selain mengisi suara di film Aladdin, Williams juga menjadi pengisi suara untuk film Robots (2005) dan Happy Feet (2006).

6. Mrs. Doubtfire (1993)

Dalam film ini Robin menyaru sebagai pembantu rumah tangga demi dekat dengan anak-anaknya

7. Good Will Hunting (1997)

Dalam film ini, Robin meraih Oscar sebagai aktor pendukung pria . Film tersebut mencapai box Office dengan pendapatan dari seluruh dunia 225, 9 juta dolar AS.   

memilih Angka Hoki Di Hari Pernikahan



Menikah di Angka 10-10-10

Setelah melewati masa pacaran,  Indra Bekti menikahi kekasihnya, Aldila Jelita (Dilla) pada  Minggu (10/10/2010). Pernikahan Indra dan Dilla, termasuk pernikahan selebritis termegah pada tahun 2010.
"Kenalannya di Bandara Internasional Bangkok. Orangnya bersahaja dan mandiri. Dilla waktu itu masih tinggal di Malaysia," kata pria berdarah jawa dan Minang ini.

Pernikahan Bekti, serba 10. Untuk menggelar pernikahan serba 10 itu, Indra menguras tabungannya selama 7 tahun.
"Lumayan nguras tabungan selama 7 tahun," jawab Indra  di tempat akad nikahnya di Masjid Baitut Tholibin, Kementerian Pendidikan Nasional, Jl Sudirman, Jakarta Selatan.

Indra memang telah menanti 7 tahun sebelum akhirnya bisa pacaran kemudian menikahi Adilla Jelita. Sebelumnya, selama 7 tahun Indra menjomblo.
"Sempat umroh tahun 2003 minta jodoh yang baik, ternyata 2007 kenal sama Dilla," kenangnya.

Setelah cukup lama saling mengenal, Indra pun melamar Dilla pada 2009. Keduanya kemudian memutuskan menikah pada tanggal istimewa, 10-10-10.
Bukan hanya tanggal saja yang berbau 10. Di hari pernikahan Indra-Dilla. Banyak hal juga berbau angka 10 dalam akad nikah dan resepsi kedua mempelai itu.

Saat akad nikah misalnya, Indra menyerahkan 10 dinar emas. Akad juga digelar pada pukul 10.00 WIB kurang 10 menit. Usai akad, kedua mempelai berlalu dengan iring-iringan 10 motor Harley Davidson.
Resepsi Indra dan Dilla yang juga berbau 10. Ia menggelar tema pesta resepsi "Arabian Night 1001 malam".

Ada 10 MC kondang yang memandu jalannya resepsi pernikahan Indra dan Dilla. Mereka di antaranya, Indy Barends, Nirina, Irfan Hakim, Olga Syahputra, Panda, dll. Selain itu, ada juga 10 selebriti dan pasangannya yang menjadi pagar ayu dan pagar bagus.
"Alhamdulillah mereka mau menolong. Mudah-mudahan yang membantu dapat pahala. Aku udah menghubungi mereka dari setahun yang lalu. Suatu kehormatan bisa dibantu mereka," ujar Indra bahagia.

Kini Indra sudah dikaruniai dua anak, Dafania Sahira Indra Bekti yang lahir pada  tanggal 23 Mei 2012 dan Annabel Eleanor yang lahir pada tanggal 14 Februari 2014.

Membukukan Kisah Hidup
'
Pada tanggal 28 Desember 2005, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-28, Indra Bekti mengeluarkan sebuah buku yang bertajuk Indra Bekti 28 Ways to Stardom yang berisi tentang 28 rahasia dan 28 kiat-kiat sukses karier dan pengalamannya di dunia hiburan Indonesia.
Kini di tahun 2014, tepatnya pada tanggal 26 Mei 2014, Indra kembali meluncurkan sebuah buku berjudul Indra Bekti : 1 Cinta 15 Dunia.  Buku tersebut berisi perjalanan karier, serta cerita kehidupannya.
"Buku ini memang mengisahkan tentang aku banget. Selain berisikan perjalanan dan lika-liku karierku di dunia entertainment, juga berkisah tentang aku, cinta dan keluarga yang belum pernah dimuat di media manapun secara tuntas dan blakblakan," kata Bekti.




Buku setebal 140 halaman ini digarap Bekti bersama Moamar Emka. Dalam buku tersebut, suami Aldilla Jelita itu ingin mengajak masyarakat agar semangat berjuang meraih cita-cita.
"Mimpi harus dikejar dan harus diucapin, terus diimpikan. Entah gimana caranya nanti alam semesta akan mengarahkan menuju mimpi kita kalau kita yakin. Tahap demi tahap karena semuanya butuh proses," tuturnya.

Bekti memang pria yang menginspirasi. Ia tak mengenal lelah memperjuangkan hidupnya untuk berada di tempat yang layak. Indra Bekti selain dikenal sebagai presenter, ia juga bintang film, iklan, dan penyanyi. Dalam kariernya juga, ia sudah berhasil mengorbitkan beberapa artis melalui manajemen bentukannnya, Inbek Plus. Beberapa artis yang diorbitkan antara lain adalah Coboy Junior (sekarang CJR-red),  Fitri Tropica dan banyak lagi.

Jumat, 15 Agustus 2014

Sosok Ibu Yang Luar Biasa



Kehilangan Mama  

Indra Bekti mengaku sejak kecil lebih dekat dengan mamanya dibanding dengan papanya. "Mama lebih perhatian pada anak-anaknya ketimbang Papa. Sejak kecil aku merasakan, Papa yang pekerja kantoran, lebih pelit dibanding Mama yang bekerja sebagai SPG cosmetic ternama," ucapnya mengenang. 

Ia merasa mamanya  begitu royal memberi uang jajan atau membelikan apa saja untuk menyenangkan hati anak-anaknya.  "Meski berpisah sebentar saja dengan Mama, rasanya aku menjadi amat kehilangan," akunya. 

Selain bekerja menjadi SPG Cosmetik,  mamanya  juga bikin usaha sendiri. Beliau menjahit dan menjual parfum. "Sebenarnya Mama termasuk keras mendidik kami. Semasa adikku belum lahir, kalau aku dan kakakku Akbar nakal, Mama bisa kesal dan marah," ucapnya.

"Dalam pandanganku Mama adalah sosok yang luar biasa. Mama-lah supporter sejatiku dalam berkesenian. Aku bersyukur bisa mempersembahkan sesuatu yang berharga bagi Mama. Sejumlah penghargaan yang kuraih, membuat Mama bahagia," 

Indra sedikit menyesal belum bisa menunjukan kesuksesannya dalam hidup kepada mamanya. Ya, orangtua Indra terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa karena mengalami kecelakaan lalu lintas.

"Tahun 1993. Suatu pagi, Mama mengajak Papa jalan-jalan, tanpa berpamitan dengan anak-anaknya dan eyang. Belakangan aku tahu mereka jalan mengendarai Vespa hingga Taman Safari lewat Parung. Kutunggu seharian Papa dan Mama tak kunjung pulang. Malam harinya ada orang datang menyampaikan kabar yang sangat mengejutkan. Bayangkan saja,orangtuaku mengalami kecelakaan. Aku tak percaya. Rasanya seperti mimpi. Kami langsung meluncur ke RS PMI, Bogor, tempat Mama dan Papa dirawat," kenangnya.

"Sampai di sana, aku menyaksikan kondisi Mama dan Papa begitu mengenaskan. Aku meraung-raung sejadi-jadinya melihat mereka penuh darah. Mama dan Papa mengalami gegar otak. Saat melihatku, Mama hanya bisa menangis. Dengan lemah, Mama memegangi tanganku. Mama seperti hendak bicara tapi tak bisa. Papa dan Mama menjalani operasi. Papa selamat. Seminggu setelah dioperasi, Mama meninggal. Dukaku luar biasa dalam. Terlebih malam hari setelah dimakamkan, Mama datang dalam mimpiku. "Dik, Mama mau pergi jauh. Jangan nakal, ya." Aku menangis lagi. 

Sepeninggal mamanya, Papa Bekti menikah lagi. "Aku sempat kecewa. Rasanya aku tidak rela ada yang menggantikan Mama di hati Papa. Dari perkawinan itu, Papa memiliki dua anak. Aku menyapa istri Papa dengan sebutan tante, sesuai permintaannya," ucapnya.


Keluarga Baru

Dalam perjalanan hidup Indra Bekti, ia  menemukan sosok seorang yang membuat hidupnya seperti  kembali baru. Namanya Nadia Fitriasari Laras yang biasa disapanya Nace. 

Dia adalah putri Subronto Laras. Indra dan Nace bertemu ketika sama-sama kuliah di London School. Nace mengangkat Bekti sebagai adiknya. Nace banyak men-support baik spirit maupun biaya. Nace dinilai Bekti, merupakan salah satu orang yang berperan penting bagi kesuksesan kariernya. 

"Pada saat itu, aku tengah berada di puncak kegilaanku mengikuti lomba-lomba seni. Rupanya Nace selalu memperhatikan bakatku. Jadilah Nace supporter sejati kedua setelah Mama. Bisa jadi Nace menaruh rasa iba karena aku tak memiliki Mama lagi. Maka aku dijadikan adik. Aku juga diperkenankan tinggal di rumahnya.
Aku amat beruntung bertemu orang sebaik dia. Apalagi Bapak dan Ibu Subronto Laras juga amat baik padaku. Aku dianggap anak sendiri," ucapnya.



Kamis, 14 Agustus 2014

Dubber Menjadi Pintu Kepopuler Indra Bekti



Sejak Kecil Indra Bekti sudah bercita-cita untuk berkiprah di dunia hiburan. Ia termasuk orang yang tak pernah mengenal lelah untuk mengasah diri. Berawal dari seorang penyulih suara (dubber), nama Indra Bekti kini tidak asing lagi bagi penikmat tayangan layar kaca. Lewat banyolannya, dia mampu menyihir acara yang dibawakan menjadi “hidup”dan “segar”. Indra termasuk orang yang tak pernah puas dalam berkarier. Berikut kisah tentang Indra Bekti

Memiliki Bakat Seni Sejak Kecil

Indra Bekti memiliki nama lahir Bekti Indratomo. Ia lahir di Jakarta 28 Desember 1977 sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara dari pasangan pasangan Aruji Prianto dan mendiang Syafrida. Ia  besar di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan, dari sebuah keluarga sederhana.
Mengenai nama Indra Bekti, ia berkata jika nama tersebut didapatnya setelah terjun ke industri hiburan Tanah Air. “Biasalah, artis ganti nama biar lebih akrab di telinga masyarakat,” ucapnya.

Semasa kecil,  Indra termasuk anak yang aktif dan boleh dibilang nakal. “Aku paling suka bermain. Terkadang, permainan yang kulakukan cukup membahayakan juga. Misalnya saja memanjat genting atau pohon,” akunya.
Bakat seninya memang sudah menonjol sejak kecil. Boleh dibilang Indra doyan tampil sejak kecil. Dia sudah suka banget menyanyi, baca puisi di rumah, sekolah atau di depan siapa pun. “Mamaku  sampai bilang ‘Kayaknya anak ini punya bakat’.  Ucapan  mama terbukti, ketika ikut kejuaraan baca puisi dan akting, hampir dipastikan aku dapat juara,” ujarnya.

Keinginan untuk menjadi presenter juga sudah terlihat sejak Indra masih kecil. Ia sewaktu SD, setiap belajar di rumah, berlagak seolah-olah penyiar televisi yang sedang membaca berita atau narasi. Aku bergaya dengan duduk membelakangi tembok. “Belajar dengan cara membaca pelajaran seperti penyiar teve justru masuk ke otakku,” kata Indra.

Menginjak SMP lalu ke SMA, aktivitas Indra semakin beragam. Mulai dari ikut kegiatan OSIS, paduan suara, sampai menjadi anggota Paskibraka.
“Aku jadi siswa yang termasuk menonjol di sekolah. Buntutnya sejak SMP aku sudah sering dikelilingi cewek-cewek. Asyik,” ucapnya.
Awalnya Indra tak pernah berpikir ingin menjadi artis , walau ia aktif dalam kegiatan kesenian di sekolahnya. Ia dahulu ingin menjadi pengacara.
Setelah tamat SMP, Indra melanjutkan  ke Sekolah Menengah Industri Pariwisataan (SMIP). Itu atas saran dari mamanya agar aku cepat mendapat pekerjaan.






Menjadi Dubber Awal Kesuksesan Indra Bekti

Jalan mewujudkan cita-cita Indra Bekti memasuki dunia hiburan Tanah Air, mulai terbuka lewat tawaran sulih suara (dubbing) dalam film kartun Candy-Candy yang populer di era tahun 1990-an.
”Kalau nggak salah, dibayar per tokoh Rp 30 ribu. Aku girang banget karena bisa menghasilkan uang sendiri,” ucapnya. 

Lewat sulih suara tersebut, Bekti termotivasi dan terus belajar. Selepas SMA, dia siaran di radio dan akhirnya bisa tampil di televisi sebagai pemandu acara Tralala Trilili bersama Agnes Monica. Dari memandu acara tersebut, Indra mendapat pelajaran berharga soal public speaking. Pecinta topi ini pun lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan kuliah di jurusan Public Speaking di London School.

Usai membawakan acara Tralala Trilili, Indra mendapat banyak tawaran untuk menjadi pemandu acara. Ia semakin dikenal saat berhasil membawakan acara Ceriwis. Sejak itu, ia mengaku karier dan rejekinya semakin mengkilau.
Pada tahun 2001, Indra juga sempat menjajal kemampuannya bernyanyi dengan membentuk grup FBI dengan single andalan Aku Bahagia . Namun sayang, ia dan grupnya kurang mendapat tempat di blantika musik Indonesia. FBI pun tenggelam.

Kemudian, pada tahun 2011, Indra mencoba jalur solo  bekerjasama   dengan label Sony Music.Indra juga dikenal sebagai pemain film. Ia bermain dalam film 5 Sehat 4 Sempurna (2002), Cinta 24 Karat (2003), Biarkan Bintang Menari (2003), Bad Wolves (2005), Namaku Dick (2008), Dikejar Setan (2009), Get Married 2 (2009), Rumah Tanpa Jendela (2011), Jenderal Kancil The Movie (2012).

Rabu, 13 Agustus 2014

Memeluk Islam Menenangkan Jiwa Dian Sastro



Menjadi Mualaf

Saat Isra Miraj tahun 2006 lalu, Dian Sastrowardoyo memutuskan untuk berpindah keyakinan. Ia memilih masuk Islam bukan lantaran popularitas, namun karena kemauan hatinya. Meski sang ibu menganut agama Katolik, namun Dian mengaku bahwa itu tak menjadi masalah. Menurutnya, sang ibu bukanlah orang yang picik. Beliau tidak mempermasalahkan soal keyakinan yang dipilih sang putri. "Dari hatiku sendiri," kata Dian Sastro kala menjawab tentang dirinya yang merubah keyakinan. 

Dian mengaku belajar banyak tentang Islam dari Omnya. Ia juga mengaku berpindah keyakinan bukan karena paksaan. Setelah menjalani ajaran agama Islam, Dian merasa nyaman. "Yang penting kita iklas," ucapnya.
"Perasaanku lega. Karena aku masuk Islam bukan karena popularitas. Yang membuat aku memilih Islam karena aku ingin berserah diri dan pasrah kepada Allah. Karena Islam bagi saya adalah berserah diri dengan ikhlas. Dan aku sudah yakin benar akan pilihanku. Dalam belajar agama, saya bukanlah orang suka menghapal atau hanya sekedar membaca saja. Saya ingin menghayati setiap ayat-ayat Al-Quran. Jadi tidak sekedar bisa mengucap dan menghapal, tapi kita juga harus tahu artinya. Sumpah mati aku ikhlas,"

Selain dari omnya, Dian banyak mempelajari Islam melalui buku. "Ada guru juga yang ngajarin, tapi lebih banyak aku baca buku," ucapnya.
Dian yang kala itu pacaran dengan Iyun yang beragama muslim, mengaku terbantu untuk mempelajari agama Islam. "Iya. Aku suka tanya-tanya ke dia,". Kala itu Dian juga tak peduli dengan pemikiran orang yang mengidentikan Islam dengan teroris. "Itu hanya kebohongan. Bagi saya itu hanya politik," ucapnya. Dari pihak keluarga bagaimana?

Kebetulan saya hanya sama mama. Mama saya beragama katolik, dan beliau bukanlah orang yang picik. Dia tahu bahwa agama apapun, kalau memang yang menjalankan itu ikhlas, maka akan baik bagi dirinya sendiri. Jadi mama merasa tidak punya hak untuk melarang siapa saja dalam memilih agamanya masing-masing. Waktu pertama-tama mama memang kaget, karena dikiranya saya akan pergi jihad. Tapi setelah aku jelaskan, mama akhirnya dapat menerima dan mengerti. Malah sekarang, kalau aku lupa sholat, mama yang sering kasih ingat.


Pria -Pria yang Berhasil Meraih Hati Dian Sastro 

Nama Dian Sastro semakin populer sejak artis kelahiran 16 Maret 1982 ini membintangi film 'Ada Apa Dengan Cinta'. Perannya sebagai Cinta membuat Dian Sastro menjadi idola baru para remaja. Sejak saat itu, kehidupan Dian selalu menjadi sorotan. Demikian juga kisah cintanya.
Sebelum menikah dengan Indraguna Sutowo pada 18 Mei 2010 lalu, beberapa pria pernah hinggap di hati artis cantik tersebut.
Hayunaji atau kerap disapa Iyun diketahui sebagai pacar pertama Dian. Iyun kala itu bekerja di Bank Universal sebagai Investor Relations – Corporate Secretary & Public Relations. Sebelumnya Iyun kuliah di Universitas Indonesia jurusan Ekonomi. 

Iyun juga anggota band Discus sebagai penabuh drum. Iyun menyumbangkan suara drum untuk album soundtrack film A2DC yang digarap Anto Hoed dan Melly. Dalam penggarapan album itulah Dian bertemu Iyun.
Dalam album yang berisi 11 lagu itu, Iyun main drum untuk 4 lagu, termasuk Tentang Seseorang yang indah itu. Sama-sama sibuk, Dian dan Iyun belum pernah lagi bertemu sampai A2DC di-premiere-kan di Jakarta pada Februari 2002 lalu.




Saat menjalin kasih dengan Iyun, Dian terpaut usia 10 tahun lebih muda dari Iyun. “Sampai sekarang saya masih suka geli mengingat Iyun tuh sudah kuliah waktu aku baru 10 tahun. Ya ampuuuun!” kata Dian.
Namun asmara mereka kandas di tengah jalan. Setelah putus dengan Iyun, Dian dikabarkan menjalin kasih dengan pembalap  Moreno Soeprapto. Kisah cinta Dian dengan Moreno tak bertahan lama. Keduanya memilih untuk mengambil jalan masing-masing.

Setelah itu, pemilik nama Diandra Paramitha Sastrowardoyo ini menautkan hatinya kepada Abi Yapto. Jalinan cinta antara Dian Sastro dengan Abi Yapto berjalan cukup lama. Sayang, lagi-lagi jalinan cinta Dian dengan Abi tak berjalan mulus. Hubungan cinta mereka pun berakhir.

Setelah putus dari Abi, Dian cukup lama tak terlihat menggandeng pria. Pada saat itu, bintang sabun Lux ini mengaku menikmati masa kesendiriannya tersebut. Tetapi, tak lama setelah itu, pada saat menghadiri sebuah acara di bilangan Jakarta Pusat, Dian Sastro terlihat menggandeng seorang pria berkacamata. Usut punya usut, pria itu bernama Warman Nasution dan berprofesi sebagai penyiar di radio Prambors.

Sayang, Dian tak mau berbagi kebahagiaannya karena punya pacar baru.  Dian beralasan dia tak mau orang lebih mengenal dirinya itu dari berita-berita asmaranya dibanding prestasinya. Asmara Dian dengan Warman juga tak berhasil. Kemudian pada tahun 2010 Dian hadir dengan kabar bahagia. Ia mengaku akan melepas lajang dengan Indraguna Sutowo, putra pengusaha Adiguna Sutowo. 

Romansa cinta Dian Sastro dan Indraguna Sutowo ternyata telah terbina dua tahun lamanya. Selama ini, mereka sengaja diam dan tak mengumbar kisah cintanya ke publik. Dian dilamar Indraguna bertepatan hari valentine.  
"Sebenarnya kita sudah menjalani hubungan diam-diam sekira dua tahunan. Kita memang low profile, diam-diam saja. Kita lebih kepada berdoa daripada gembar-gembor yang kayaknya kurang bagus," kata  Dian, usai dilamar Indra di kediamannya, Jalan Bangka Raya No 49, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (14/2/2010) malam.

Dengan Indraguna Sutowo, Dian melabuhkan cintanya ke pelaminan. Pada 18 Mei 2010, ia resmi menikah di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Senayan, Jakarta.
Kemudian pada tanggal 17 Juli 2011, Dian melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin laki-laki. Ia dan suami memberi nama Syailendra Sutowo kepada putra pertama mereka.

Senin, 11 Agustus 2014

Kehilangan Sosok Ayah


Masa Kecil yang Harus Dilalui dengan Prihatin

Orangtua Dian bercerai saat Dian kelas 3 SD dan sosok ayah yang terasa asing oleh Dian meninggal pada 1995, persis ketika ibu Dian sekolah di Filipina. “Waktu ayah dan ibu bercerai, aku hampir tak merasakan apa-apa. Juga waktu ayah meninggal,” ungkapnya. 

Dian dibesarkan oleh ibunya yang amat percaya pentingnya pendidikan, Dian tumbuh sebagai pribadi yang banyak menahan keinginan. “Saya nggak pernah minta dibelikan baju, nggak berani minta dibelikan mainan. Kalau mau barang baru, ya harus menabung dulu sampai uangnya cukup,” kenangnya.
Sesudah jadi Gadis Sampul pun, Dian masih hidup sederhana. Berbeda dengan teman-temannya di sebuah sekolah, pemilik rambut panjang berperawakan 162 cm/46 kg ini berpenampilan biasa-biasa saja. 

Dia berangsur-angsur mempermodis penampilannya setelah bisa cari duit sendiri. “Mama kecewa dan protes melihat aku jadi gaya. Tapi aku membuktikan diri tetap anak baik dengan mempertahankan prestasi sekolah,” katanya. Dian selalu mengingat, akan perkataan ibunya. Dan itu menjadi bekalnya berkarier.  “Mama bukan orang kaya. Mama nggak sanggup punya anak yang nggak pintar.”  Dian pun membuktikannya dengan lulus sarjana Universitas Indonesia jurusan Filsafat. 






Mengenal Sosok Ayah Setelah Dewasa

Dian pernah merasa tak nyaman dengan keluarganya. Ayahnya suka bermeditasi, tidak bekerja, jarang makan, dan mandi, serta hidup menyendiri. “Seperti tidak pernah punya ayah saja,” kata Dian.

Setelah besar, baru Dian terpanggil untuk mengenal ayahnya lewat buku-buku yang dulu dilahap almarhum. Mata Dian pun terbuka. Ternyata, ucapnya, ayah tak seaneh yang ia dikira dan malahan punya kemiripan dengannya.
"Terus terang nih, saya pernah malu punya ayah seperti almarhum bapak saya. Dia belajar sastra Cina di Universitas Indonesia dan banyak yang bilang dia itu idealis dan berani. Dia rajin bermeditasi dan sewaktu meninggal memeluk agama Budha. Tapi yang paling saya ingat dari bapak sifatnya yang nyentrik. Saking nyentriknya, saya sampai malu. Dulu waktu saya kecil, bapak masih suka jemput saya ke sekolah. Kadang dia lupa jam berapa saya pulang. Bapak datang dengan baju berantakan dan mobil yang kotor. Padahal orangnya good looking. Tapi karena nggak terurus, badannya gemuk. Teman-teman suka heran lihat penampilan bapak dan tanya di mana bapak bekerja. Wah, saya malu dan bingung mau jawab apa. Soalnya yang cari uang kan ibu," kenangnya.

Setelah mengenal sosok ayahnya, Dian sudah tidak malu lagi dengan sosok sang ayah. "Ternyata banyak juga orang yang kenal bapak dan sekarang baik-baik sama saya. Waktu kuliah dulu, ayah seangkatan dengan Om Tino Saroengallo yang memproduseri Pasir Berbisik. Jadi Om Tino itu baik sekali, menjaga saya seperti bapak sendiri. Karena bapak jarang di rumah, saya lebih dekat dengan ibu. Justru kalau bapak sedang mau dekat, saya jadi merasa canggung. Dia lebih banyak tinggal sendiri dan hidupnya nggak teratur. Saat meninggal di badannya banyak penyakit, dari lever, asam urat, empedu, juga maag,".

Dituturkan Dian, kepriabadian Ayahnya jauh sekali dengan ibunya. "Ibu lain sekali dari ayah. Dia bekerja sangat keras dan saya diajar untuk mandiri. Waktu kecil, saya suka ditinggal ibu yang sibuk kerja," ucapnya.
Dian tak pernah dimanjakan oleh ibunya. melalui ibunya, Dian menjadi sosok yang mandiri.  "Biarpun sekarang saya sudah bisa cari duit, itu belum dirasa cukup oleh ibu yang mementingkan pendidikan. Ibu bilang, yang sekarang saya dapat hanya sementara sifatnya. Keberhasilan saya sekarang lebih banyak ditentukan faktor keberuntungan, jadi nggak masuk hitungan ibu. Saya harus terus belajar, punya karier, kalau mungkin punya usaha sendiri," ucapnya.

Minggu, 10 Agustus 2014

Bakat Alami Dian Sastro

Dian Sastro dikenal sebagai aktris berbakat yang penuh dengan totalitas. Hobinya adalah membaca, nonton dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni. Nama Dian Sastro semakin populer sejak  membintangi film Ada Apa Dengan Cinta. Perannya sebagai Cinta membuat Dian Sastro menjadi idola baru para remaja. Sejak saat itu, kehidupan Dian selalu menjadi sorotan. Berikut Kisah Dian Sastro



Biografi

Diandra Paramitha Sastrowardoyo, begitu nama lahir dari artis yang kini kerap disapa Dian Sastro itu. Ia lahir di Jakarta, 16 Maret 1982 dari pasangan Ariawan Rusdianto Sastrowardoyo dan Dewi Parwati Setyorini. Dian adalah salah seorang cucu tokoh pergerakan nasional Prof. Mr. Sunario Sastrowardoyo. 
Dian Sastro dikenal sebagai aktris berbakat yang penuh dengan totalitas. Hobinya adalah membaca, nonton dan segala sesuatu yang berkaitan dengan seni.

Dian memulai kariernya di dunia hiburan sejak tahun 1996 ketika dirinya menjadi juara 1 di ajang GADIS Sampul yang diadakan majalah GADIS. 
Sejak saat itu, Dian mulai menggeluti dunia seni peran. Ia pun mulai memasuki dunia film pada tahun 2000 lewat film Bintang Jatuh karya Rudi Sujarwo. Namun film tersebut tidak ditayangkan di bioskop dan hanya diedarkan indie di kampus-kampus.  Di film tersebut Dian beradu akting dengan Marcella Zalianty, Garry Iskak dan Indra Birowo.

Film selanjutnya di tahun 2001, Pasir Berbisik yang menyandingkannya untuk beradu akting dengan Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Didi Petet.
Pada tahun 2002, Dian bermain dalam film remaja berjudul Ada Apa Dengan Cinta karya Rudi Sujarwo. Ia beradu akting dengan Nicholas Saputra.  Untuk film ini, Dian dan Nicholas disebut-sebut sebagai ikon kebangkitan film nasional. Selanjutnya Dian kerap bermain dalam film yang berkualitas seperti Putri Gunung Ledang (2004), Banyu Biru (2005), Ungu Violet (2005), Belahan Jiwa (2005), 3 Doa 3 Cinta (2008), Drupadi (2008), Pengantin Cinta (2010). Ada juga film seri Dunia Tanpa Koma (2006) dan Film pendek (Bukan Kesempatan yang Terlewat)

Dalam film Drupadi, Dian Sastro bertindak sebagai produser. 
Selain dikenal lewat perannya di  dunia film, Dian Sastro juga banyak membintangi iklan. Salah satu iklan yang mengharumkan namanya adalah iklan sabun Lux. Ia didaulat menjadi bintang Lux pada 2002. Ia juga kerap menjadi ikon produk kecantikan. Dian juga sering tampil dalam pegelaran teater. Ia juga suka membaca puisi. Dian juga pernah menjadi pembawa acara kuis Super Miliarder 3 Miliar yang ditayangkan di ANTV.
Untuk mengurus masalah kontrak, Dian mempercayakan kepada ibundanya. "Mama yang ngurusin kontrak dan aku ngikutin dia saja. Kebetulan aku punya tante yang berprofesi pengacara, jadi bisa diajak diskusi." ucapnya.


Penghargaan  

Lewat totalitasnya dalam berakting, Dian Sastro kerap mendapat penghargaan.  Dalam film Pasir Berbisik, Dian dianugerahi pemeran wanita terbaik pada Festival Film Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Perancis (2002). Dalam film Ada Apa Dengan Cinta, menurut situs Wikipedia, Dian berhasil meraih tujuh penghargaan antara lain sebagai berikut ; Aktris Terbaik versi Festival Film Indonesia, Aktris Terbaik versi Festival Film Bandung, Aktris Terbaik versi Festival Film Fare, Aktris Terbaik versi Festival film Indipenden, Aktris Terbaik versi Festival Film Internasional, Aktris Terbaik versi Panasonic Award, Aktris Terpavorit versi Panasonic Award.
Film 3 Doa 3 Cinta, yang  merupakan film dengan nuansa religius yang dibesut oleh sutradara Nurman Hakim, di ajang International Festival of Asian Cinema Vesoul, 3 Doa 3 Cinta berhasil membawa pulang penghargaan Grand Prize of the International Jury.




Dian juga berkesempatan menjadi pembawa obor di ajang Olimpiade 2008.
Selain sebagai aktris ia pernah memiliki rubrik sendiri di majalah GADIS yang bernama Kata Dian, di rubrik tersebut ia menyalurkan bakat menulisnya dan berkomunikasi dengan pembaca majalah Gadis. 
Dian adalah lulusan jurusan filsafat FIB UI yang tak jarang dimintai bantuan sebagai asisten dosen oleh para seniornya. Sebelumnya Dian sempat pindah dari Fakultas Hukum UI. Dian mengenyam pendidikan di Don Bosco (TK), Strada Van Lith II, Duren Sawit, Jakarta (SD), Vincentius Otista, Jakarta (SMP), dan Tarakanita I, Pulo Raya, Jakarta (SMA).