Tampilkan postingan dengan label Rieke Diah Pitaloka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rieke Diah Pitaloka. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Oktober 2014

Rieke Diah pitaloka, Masuk Panggung Politik



Rieke Diah Pitaloka, Gemar Menulis

Dari panggung teater, Rieke lalu merambah ke layar lebar. Debutnya dimulai saat menjadi salah satu aktris pendukung dalam film garapan Sutradara, Produser Nia Dinata, Berbagi Suami. Di film itu, ia berperan sebagai Dwi, seorang  perempuan yang rela dipoligami.

Setelah itu, Rieke kembali berakting dalam film antologi karya empat sutradara perempuan berjudul Lotus Requiem, yang kemudian judulnya diubah menjadi Perempuan Punya Cerita. Film tersebut menampilkan kisah empat perempuan, yakni Sumantri (Rieke Diah Pitaloka), Safina (diperankan Kirana Larasati), Esi (Shanty), dan Laksmi (Susan Bachtiar). 

Pada Desember 2001, ia mempublikasikan kumpulan puisi-puisinya dalam sebuah buku berjudul Renungan Kloset untuk pertama kali. Dua tahun kemudian, April 2003, Rieke meluncurkan 'sekuel' buku kumpulan puisi Renungan Kloset yang diberi tajuk Dari Cengkeh sampai Utrecht. Selanjutnya, Rieke kembali meluncurkan karyanya, masih berbentuk kumpulan puisi yang kali ini diberi judul UPS! pada Desember 2005. Selain rajin menelurkan karya tulisnya dalam bentuk buku, ia juga mendirikan Yayasan Pitaloka, sebuah yayasan yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan. 


Rieke Diah pitaloka, Masuk Panggung Politik

Sukses di dunia seni peran, Rieke mulai merambah dunia politik. Ketertarikan Rieke pada politik tak main-main atau hanya sekadar latah mengekor jejak rekan seprofesinya yang lebih dulu berkecimpung sebagai politikus. 
Dalam sebuah kesempatan di pertengahan tahun 2007, ia menceritakan awal partisipasinya dalam kancah perpolitikan Tanah Air. "Awalnya, saya gregetan dengan hukum Indonesia yang berjalan tidak sesuai koridor. Saya juga sedih karena ada stigma bahwa di dunia politik artis cuma digunakan sebagai pajangan, hanya disuruh nyanyi, menghibur, jadi MC-nya saja. Tanpa ditanya apa punya gagasan atau diajak rapat. Saya miris melihatnya," tutur Rieke.

Terlebih lagi diakuinya, dunia politik bukanlah hal yang baru sebab pengagum Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama 
Bung Karno ini telah mempelajari seluk beluk ilmu politik sejak tahun 1995. Pada saat terjadi pergolakan yang dimotori mahasiswa yang berujung runtuhnya rezim Presiden Republik Indonesia Kedua, Soeharto.

Orde Baru, Rieke pun ikut ambil bagian. Saat itu Rieke masih berstatus mahasiswa dan tergabung dalam Gerakan Mahasiswa UI Aliansi Pro Demokrasi Anti Militerisme. Oleh karena itu, ia membantah jika ada sebagian kalangan yang mencapnya sebagai politikus instan. "Saya nggak buta-buta banget soal politik," tegasnya. 



Rieke mengaku, selama aktif dalam bidang politik, ia sering mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan lantaran terlalu vokal menyuarakan aspirasi rakyat. Ancaman pun kerap ia dapatkan dari oknum-oknum yang berseberangan pemikiran dengannya. Tapi hal itu tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus menyuarakan aspirasi rakyat. 

Keseriusan dan komitmennya dibuktikan dengan berbagai jabatan yang pernah diamanatkan padanya. Rieke pernah menjabat sebagai wakil sekretaris jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB. Belakangan ia mengundurkan diri dari partai berbasis massa Islam tersebut untuk kemudian bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P).

Partai berlogo banteng itulah yang kemudian mendukung pencalonannya sebagai caleg pada Pileg tahun 2009. Berbekal popularitasnya sebagai selebriti, Rieke yang mewakili Daerah Pemilihan Jawa Barat II berhasil melenggang ke Senayan sebagai anggota DPR periode 2009-2014 dan kembali lagi terpilih untuk periode 2014-2019. 

Rieke merupakan salah satu anggota dari Komisi IX. Bidang yang sangat Ia perhatikan adalah bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia merupakan salah satu anggota Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Jumat, 10 Oktober 2014

Rieke Diah Pitaloka, Mengikis Image Oneng





Rieke Diah Pitaloka kembali terpilih menjadi anggota DPR. Bahkan, ia
diisukan menjadi menteri dalam susunan kabinet presiden terpilih Jokowi Widodo. Berikut kisah Rieke.


Rieke Diah Pitaloka, Terkenal “Oneng”

Rieke Diah Pitaloka Intan Permatasari, demikian nama yang diberikan oleh orangtuanya. Ia lahir di Garut, Jawa Barat pada 8 Januari 1974.

Rieke mulai dikenal publik lewat iklan kondom Sutra dengan ucapan nakalnya, “meong…. “. Kemudian ia yang mengawali kariernya sebagai aktris sinetron, semakin dikenal lewat sitkom Bajaj Bajuri. Dalam sinetron komedi yang tayang di Trans TV itu, ia beradu akting dengan komedian Mat Solar yang berperan sebagai seorang supir bajaj bernama Bajuri. 

Di sinetron besutan Aris Nugraha itu, Rieke berperan sebagai Oneng, istri Bajuri, yang berkarakter polos bahkan terkesan blo'on. Peran yang kerap mengundang tawa itu akhirnya berhasil memancing kekaguman pemirsa atas aktingnya. Penghargaan dari Forum Film Bandung 2003 sebagai Aktris wanita Terpuji pun berhasil disabet Rieke.

Di sela-sela padatnya aktivitas, Rieke juga aktif menulis. Selain tentang politik, politikus yang vokal memperjuangkan nasib kaum hawa ini juga gemar merangkai kata menjadi sebuah puisi indah.

Ia juga figur yang amat mementingkan pendidikan. Di tengah puncak kariernya, Rieke tetap berusaha menimba ilmu. Setelah berhasil meraih gelar sarjana di bidang filsafat dan sastra, perempuan yang kerap disapa Keke ini meneruskan studinya ke jenjang S-2 jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI). 

Sejak lulus S2 pada Agustus 2004, ia getol menawarkan tesisnya ke penerbit. Kemudian penerbit Galang Press mau menerbitkannya. Menurut Rieke, Tesisnya yang kemudian dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat yang resmi diluncurkan pada 19 Oktober 2004, ia persembahkan untuk Indonesia anti-kekerasan.

"Saya sangat prihatin bahwa kini kekerasan juga tak hanya dilakukan oleh aparat tapi juga oleh kita semua, malah dalam lingkungan keluarga," katanya. 

Acara peluncuran bukunya yang diselenggarakan di Taman Ismail mardjuki dihadiri sejumlah tokoh seperti Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, mantan Menneg Pemberdayaan Perempuan Khofifah Indar Parawansa serta Abdurrahman Wahid dan istri. 



Rieke Diah Pitaloka, Mengikis Image Oneng

Suskses berperan sebagai Oneng di sitcom bajaj Bajuri, rupanya membuat Rieke Diah pitaloka jengah. Imej Oneng terus melekat di dirinya. Dengan menjajal dunia teater, ia berharap bisa melepaskan imej Oneng yang selama bertahun-tahun melekat padanya.

"Aku ingin image Oneng yang o'on hilang dari diriku makanya lewat pementasan ini aku akan coba mengikis image tersebut sedikit demi sedikit," ungkapnya pada acara jumpa pers pementasan teater yang berjudul 'Cipoa' yang digelar di pertengahan Juni 2007. 

Tandem presenter Ferdy Hasan dalam acara Good Morning Trans TV ini mengakui masyarakat memang sudah mengenal dirinya sebagai Oneng dan itu tidak dapat dipungkiri namun menurutnya hal itu tidak baik kalau dibiarkan terus menerus.



Rieke mencontohkan Didi Petet yang waktu itu sudah melekat dengan tokoh bencong bernama Emon yang ia perankan dalam film Catatan Si Boy. Namun karena sedikit demi sedikit dikikis akhirnya image tersebut hilang dari diri Aktor Didi Petet. "Aku ingin mencontoh langkah Kang Didi yang sukses menghilangkan image tokoh Emon," demikian Rieke mengungkap tekadnya.

Dalam panggung teater, ia pernah ikut dalam pementasan teater bertajuk Jangan Menangis Indonesia bersama Teater Mandiri pimpinan Sastrawan Putu Wijaya pada tahun 2003. Di tahun yang sama, Rieke juga tampil dalam pertunjukan teater Ekstrim!! bersama Shakespeare Theatre. Jika sebelumnya ia hanya tampil sebagai pemain di tahun 2008, Rieke mulai mengembangkan kemampuannya sebagai pemain sekaligus produser dan penulis naskah dalam pertunjukan teater Monolog Perempuan Menuntut Malam.