Sabtu, 15 Maret 2014

Perjalanan Hidup Megawati Soekarno Putri





Megawati Soekarnoputri merupakan salah satu wanita hebat yang dimiliki Indonesia. Ia menjadi wanita pertama yang menjadi presiden Republik Indonesia. Berikut kisahnya

Kehidupan Rumah Tangga 

Bernama Lengkap Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri atau akrab disapa Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947.  Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI Soekarno dari pernikahannya dengan Fatmawati.

Kehidupan masa kecil Megawati dilewatkan di Istana Negara. Sebagai anak gadis, Megawati mempunyai hobi menari dan sering ditunjukkan di hadapan tamu-tamu negara yang berkunjung ke Istana.

Megawati  memulai pendidikannya, dari SD hingga SMA di Perguruan Cikini, Jakarta. Sementara, ia pernah belajar di dua Universitas, yaitu Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972). 

Dalam usia muda, Megawati menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU, Surendro Supjarso dan dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad Prananda dan Mohammad Rizki Pratama.

Surindro adalah sahabat karib Guntur Soekarnoputra, kakak Megawati. Konon kabarnya, Gunturlah yang menjodohkan Mega dengan Surindro. Mereka menikah pada hari Sabtu, tanggal 1 Juni 1968 bertempat di Jalan Sriwijaya Nomor 7, Kebayoran Baru, Jakarta. 




Setelah itu, Megawati lalu mengikuti suaminya, Surindro, tinggal di Madiun, Jawa Timur. Di sana ia menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak pertamanya, Mohammad Rizki Pratama. Ketika Mega sedang mengandung anak keduanya (Mohammad Prananda), Surindro mengalami kecelakaan pesawat yang merenggut nyawanya. 

Pesawat Skyvan T-701 yang dikendalikannya terempas di laut sekitar perairan pulau Biak, Irian Jaya, pada tanggal 22 Januari 1970. 
Suami Mega beserta tujuh orang awak pesawatnya, hilang tak diketahui rimbanya dan hanya tersisa serpihan puing-puing tubuh pesawat yang ditemukan tersebar berserakan di laut sekitar perairan tersebut. Mega dirundung duka yang mendalam, ia pun berkabung cukup lama.

Selang beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1972, waktu itu usia Megawati masih baru menginjak awal dua puluhan dengan mempunyai dua orang anak yang masih balita, ia lalu kembali merajut kasih asmara dengan seorang pria yang konon adalah pengusaha asal Mesir, yang juga seorang Diplomat Mesir yang kala itu sedang bertugas di Jakarta, yang bernama Hassan Gamal Ahmad Hasan. 

Namun, pernikahan Mega yang kedua kali ini tak berlangsung lama, hanya bertahan tiga bulan. Dari pernikahan dengan suami keduanya, Megawati tidak dikaruniai anak.

Satu tahun setelah kejadian itu, Megawati menikah dengan  Moh. Taufiq Kiemas, tepatnya pada akhir Maret 1973. Pernikahannya itu awet, sampai ajal menjemput Taufiq. Taufiq Kiemas meninggal pada 8 Juni 2013.  Dari pernikahannya dengan Taufiq, Mega memiliki putri bernama Puan Maharani. 

Taufiq Kiemas merupakan rekan Megawati sesama aktivis di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), yang juga menjadi salah seorang penggerak Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Suami ketiga Mega, Taufiq Kiemas, selain aktif di GMNI, ia juga bergabung dengan "Inti Pembina Jiwa Revolusi", yaitu suatu organisasi yang menegakkan ajaran "Soekarno". Taufiq Kiemas, yang oleh Guntur, kakak Megawati  diberi julukan "si Bule".


Karier Politik

Mbak Mega -- panggilan akrab para pendukungnya -- terjun ke politik pada tahun 1986 dengan menjadi wakil ketua PDI cabang Jakarta Pusat.  Meskipun masuknya Megawati ke kancah politik, berarti beliau telah mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik. Trauma politik keluarga itu ditabraknya.

Megawati tampil menjadi primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara. Ternyata memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan beliau pun terpilih menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1987. 

Kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Selain sifatnya yang pendiam, Megawati memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik saat itu. Mega lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut.

Lobi politiknya, yang silent operation, itu secara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI. Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu.

Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi. Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya. Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang didukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian status Mega sebagai Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah Nasional PDI di Jakarta.




Namun pemerintah menolak dan menganggapnya tidak sah. Karena itu, dalam perjalanan berikutnya, pemerintah mendukung kekuatan mendongkel Mega sebagai Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs,
atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi Mega tidak mudah ditaklukkan. Karena Mega dengan tegas menyatakan tidak mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, sebagai simbol keberadaan DPP yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor itu.


Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan. Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, menundang empati dan simpati dari masyarakat luas.

Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. 

Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah.

Kamis, 13 Maret 2014

Sule Sempat Digosipkan Selingkuh



Menjadi selebritis memang harus siap kehidupan pribadinya menjadi konsumsi masyarakat. Seperti halnya Sule. Ia yang hidup berjauhan dengan istri—Sule di Jakarta dan sang istri di Bandung-- sempat digosipkan selingkuh pada tahun 2012 awal.  

Gosip itu tak berkembang lama karena Sule bisa memastikan jika rumahtangganya dengan Lina baik-baik saja walau berpisah jarak.
“Nggak ah, nggak benar itu, bohong. Harus saya sadari semua manusia pasti mendapatkan cobaan, tapi saya enjoy saja, karena saya tidak melakukannya. Kalau saya melakukan, berarti pemberitaan itu benar. Tapi karena nggak benar, jadinya ya biasa aja,” Kata Sule menjelaskan kepada media.
Sule kala itu juga bingung dengan gossip yang menimpanya. Apalagi karena gossip itu, ia dikabarkan sudah digugat istri di Pengadilan Agama Cimahi, Bandung.
“Saya juga nggak tau dari mana masalahnya, tiba-tiba muncul berita ini. Kami masih aman-aman saja kok. Saya diberitakan digugat cerai gara-gara selingkuh. Kapan selingkuhnya. Buat selingkuhan tuh nggak ada waktunya. Dari pagi sampai malam, ya kerja terus,” kata Sule

Sule mengatakan hidup berpisah jarak, memang sudah menjadi komitmen dirinya dengan sang istri. Menurut pengakuan Sule karena istrinya tak bisa melepaskan bisnis salonnya di Bandung. Padahal ia sudah sering mengajak istrinya untuk tinggal bersama.
Sule dan istrinya menjalani semua dengan ikhlas. Yang terpenting bagi dirinya adalah bagaimana menjalani hubungan suami istri dengan saling percaya.
“Mungkin seperti itu. Semuanya sudah ada yang atur. Kondisinya emang seperti ini, ya jalani dengan ikhlas. Istri sudah saya ajak, tapi dia nggak mau meninggalkan pekerjaannya. Di Bandung juga enak buat tinggal. Saya juga nggak tahu istri saya ngapain di sana. Sama-sama saling percaya ajalah. Kita bikin enak ajalah,” tuturnya. 

Sule menikahi Lina pada tahun 1997.  Mereka memiliki empat anak, Rizky Febian Adriansyah Sutisna, Putrry Delina Andriany Sutisna, Rizwan Adriansyah Sutisna, dan Ferdian Adriansyah Sutisna.

Boyong Keluarga ke Jakarta

Setelah lama hidup berpisah jarak, Sule akhirnya memboyong keluarganya ke Jakarta. Usaha salon dan rias pengantin  istrinya di Bandung dipantau dari kejauhan.
“Usaha diserahkan sama orang lain. Nanti akan dipantau seminggu sekali ke sana,” kata Lina.
Tinggal di Jakarta, Lina yang terbiasa menjadi pengusaha sudah mengincar bisnis baru. Namun ia belum tahu bisnis apa yang akan digelutinya.
“Belum tahu. Karena masih baru juga di Jakarta,” kata Lina.

  
Sule Dukung Anak Jadi Penyanyi

Anak pertama pelawak Sule, Rizky Febryan Adriansah Sutisna, mulai mengikuti jejak sang ayah di dunia hiburan. Namun bukan menjadi seorang pelawak. Diki, panggilan anak Sule, menjadi seorang penyanyi dengan single Papa Telepon.
Sebagai seorang ayah, Sule mendukung langkah anaknya. Yang terpenting baginya kelak anaknya tidak melupakan pendidikannya di sekolah.

"Sebagai seorang ayah mensupport, asal nggak ganggu jadwal (sekolah)," kata Sule. "Kalau saya lihat prestasinya nggak terlalu merosot. Rapotnya Alhamdulillah, enggak kayak saya dulu bandel," lanjutnya. "Belajar nomor satu juga, sekarang nyanyi dijaga suaranya. Dia harus lebih dari saya. Dia harus punya ciri khas sendiri."

Meski anak sulungnya sudah mengikuti jejaknya menjadi penyanyi, Sule tak mau mengarahkan anaknya menjadi pelawak.
"Saya nggak terlalu nargetin anak gimana ngembangin di bidang entertainment. Terserah, saya lihat dia ngelawak itu nggak pede, padahal kalau di rumah lucu." 



Sule Ingin Bikin PH

Sukses menjadi komedian membuat Sule lebih kreatif. Kini dia berencana melebarkan sayapnya merambah ke rumah produksi (Produksi House/PH).

"Kalau rencana bikin PH, lagi ngobrol-ngobrol dengan kang Dicky Chandra. Kebetulan Kang Dicky Chandra jam terbangnya lumayan untuk memproduksi FTV atau sinetron," katanya.

Sule juga sedang berdiskusi dengan Raffi Ahmad. Meski usianya tergolong lebih muda darinya, Sule tak segan belajar dari Raffi yang sudah lebih dahulu punya PH. "Ya, belajar sama Raffi Ahmad juga. Belajar profesional biar modal yang dikeluarkan tak sia-sia," katanya.



Pemain Opera Van Java ini menyadari kalau dirinya tidak selamanya ia menjadi artis. Makanya ia mengaku memutarkan honor syutingnya di bisnis PH.

Sule juga mengakui kalau sang Isteri, Lina sangat mendukung ide bisnis PH. " Isteri saya udah dukung 100% malahan ia yang urus izin perfilmannya udah siap itu juga Ia punya inisiatif sendiri. Jadi kalau udah disiapin Isteri saya udah ngerti, Ia udah cantik dan pintar," katanya.

Rabu, 12 Maret 2014

Semakin Sukses Lewat OVJ




Semenjak masuk API (Akademi Pelawak Indonesia), Sule banyak tawaran untuk manggung. Kariernya bertambah gemerlap ketika ikut bermain wayang orang modern bertajuk Overa Van Java bersama Parto, Andre Taulani, Nunung, dan Azis Gagap yang tayang di Trans 7.
Dengan penampilannya yang khas. yakni rambut panjang berwarna pirang, Sule dapat menghipnotis penonton, menjadikan tayangan itu meraih tempat di hati pemirsa.



Semakin Sukses Bersama OVJ

Tercatat hingga saat ini, tayangan OVJ masih menjadi tayangan terfavorit sejak tayang perdana pada 2009 lalu. 
Keunikan OVJ adalah lawakan dilakukan dengan improvisasi dan mengandalkan panduan dalang, namun selalu berantakan karena para pelawak pasti melenceng dari garis besar yang dibacakan dalang. Kalau sudah seperti itu, sang dalang sendiri akan turun tangan dengan perasaan kesal karena diabaikan. Ia akhirnya ikut naik ke panggung dan mengawasi cerita, seringkali ikut campur atau bahkan malah dipermainkan.



Sule yang pernah dibimbing pelawak senior Kang Ibing ini sudah memiliki bakat melawak sejak kelas 3 SD. Kala itu Sule kecil sering tampil di acara Agustusan. Ayah dari Rizki (12), Putri (8), dan Rizwan (2) ini selain melawak juga dikenal pintar menyanyi dan pandai membanyol atau melucu. 
Kini Sule sudah menjadi miliarder dengan penghasilan Rp. 1 Miliar setiap bulannya. penghasilan terbesarnya adalah dari OVJ. Dari acara itu, sekali tampil Sule memperoleh penghasilan Rp 50 juta atau naik dibanding sebelumnya yang Rp 20 juta-Rp 40 juta.

Kini hartanya berupa lima rumah di Bandung dan Jakarta. Belum kendaraan mobil, motor yang dimilikinya. Sule mengaku bersyukur karena Tuhan telah memberi jalan. 
"Saya syukuri aja semuanya. Alhamdulillah memang ini jalannya," kata Sule.

Jadi Penyanyi dan Pemain Film 

Selain aktif di OVJ, Sule juga membintangi beberapa judul sinetron, ftv dan Film. Beberapa judul film yang pernah dibintangi Sule adalah Arwah Kuntilanak Duyung (2011), Sule, Ay Need You (2012), Sule Detektif Tokek (2013).
Sule juga dengan keahliannya bernyanyi, ikut meramaikan industri musik Indonesia.  Sule yang sedang naik daun, pada tahun 2010 masuk dapur rekaman dan meluncurkan single pertama berjudul Susis (Suami Sieun Istri). Tak disangka, lagu Sule yang memiliki lirik sederhana dan jenaka sangat diminati masyarakat pecinta musik. 
Sukses dengan Susis, Sule kembali meluncurkan singel kedua dan selanjutnya berjudul Prikitiew Bye Bye, Bola Salju, Putus Cinta, dan Salingkuh di tahun yang sama. 



Singel yang diluncurkan Sule selalu laris manis. Hal itu membuat produser ingin Sule terus meluncurkan singel. Tercatat Sule sudah meluncurkan banyak singel lagu seperti  Cicilalang  (2011),  Mimin I love you ( 2012 ).
Selain menjadi penyanyi Solo, Sule juga membentuk grup nyanyi Smosh, 7 ikan, dan Super Senior. Beberapa judul lagu duet juga pernah diluncurkan Sule seperti  Smile U don't Cry bersama Andre Taulany ( 2011 ), Saranghaeyo bersama Penyanyi Korea Eru (2013), dan Smile U don't Cry  bersama 3 Djanggo ( 2013).

Berduet dengan penyanyi Korea Eru  adalah hal yang berkesan bagi Sule. Pasalnya, dari sekian banyak penyanyi terkenal di indonesia, Sule yang terpilih. "Dia (Eru) nggak mau selain sama Sule," kata Sule.

Selasa, 11 Maret 2014

Kisah Sukses Entis Sutisna



Sule kini menjadi miliarder. Ia yang dahulu bukanlah siapa-siapa, sekarang menjadi salah satu pelawak dengan bayaran termahal. Bahkan, salah satu media  mencatat jika penghasilan Sule bisa menembus angka rp. 1 Miliar perbulan. Tentu hasil itu didapatkannya dengan perjuangan dan kerja keras. Berikut kisahnya.

Sule Awalnya Kerja Serabutan

Sule terlahir dengan nama Entis Sutisna. Ia lahir di Cimahi, Jawa Barat, 15 November 37 tahun lalu. Sewaktu kecil, Sule bisa dibilang hidup susah atau prihatin.
Sejak kecil ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), Sule Kecil harus membantu ayahnya yang berprofesi sebagai penjual bakso di Cimahi. Pada malam hari, Sule kecil juga harus ikut membantu berjualan jagung rebus keliling dari kampong ke kampung.



Waktu menemani sang ayah berjualan, ia sering melihat ayahnya melawak kepada pembeli. Bakat melawak dari ayahnya itu menular kepada dirinya.
Meski hidup dalam serba kekurangan, Sule yang tak ingin bodoh, berhasil lulus Sekolah Tinggi Seni Bandung.  Tampaknya hidup serba kekurangan masih terus berlanjut setelah Sule berumah tangga.

Sule menikah dengan Lena pada tahun 1997. Beberapa tahun berumah tangga, Sule masih belum dapat merubah kondisi hidupnya yang prihatin. Sule kesulitan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya seperti membeli kebutuhan istri dan anak-anaknya
Ia kala itu hidup mengontrak rumah kecil dengan penghasilan pas-pasan sebagai pelawak. Untuk mencari tambahan penghasilan, Sule rela jadi  pedagang ayam dan penjual baju kebaya. Penghasilan Sule saat itu hanya Rp. 20 ribu per hari.


Ikut Audisi Lawak awal Kesuksesan Sule
Masa-masa sulit bagi Sule tinggal kenangan. Kini pelawak yang serba bisa itu sudah menjadi miliarder. Keberuntungan Sule datang ketika grup lawak yang dibentuk Sule dengan dua rekannya, Ogi Suwarna dan Obin Wahyudin,  SOS lolos audisi lawak API (Akademi Pelawak Indonesia) di TPI. 
Dan selanjutnya, wajah Sule pun sering muncul di TPI (saat ini berganti nama menjadi MNCTV).

Awalnya Sule yang sudah tidak betah hidup serba kekurangan, ia nekat mengadu nasib di Jakarta dengan berbekal keahlian menari.  Sule mengaku bercita-cita menjadi pembawa acara berita televisi sehingga nekat pindah dari Jawa Barat ke Jakarta. Alumnus STSI Bandung ini kemudian berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya di Jakarta.
Kesempatan mengikuti Audisi Pelawak Indonesia (API) adalah jalan pintas menuju sukses Sule. Tidak sampai setahun setelah menjuarai Superstar Show, sebuah acara duet selebriti di Indosiar, karier Sule pun terus menanjak.




Namanya pun masuk dalam jajaran pelawak papan atas. Tahun 2009 dan 2010 adalah tahun-tahun keemasan bagi Sule. Kini Sule sudah layak disejajarkan dengan Tukul Arwana, Komeng, Eko Patrio, Parto, ataupun Olga Syahputra yang sempat dinobatkan sebagai Lima Pelawak Termahal Indonesia.

Minggu, 09 Maret 2014

Kronologi Wafatnya Jojon



Jagad hiburan Tanah Air berduka. Satu lagi seniman terbaik Indonesia tutup usia. Pelawak senior Jojon menghembuskan nafas terakhir dalam usia 66 tahun pada Kamis, 6 Maret 2014 akibat serangan jantung.
Djuhri Masdian atau dikenal Jojon diketahui sejak lama mengidap penyakit asma. Namun, banyak yang tidak menyangka jika Jojon memiliki penyakit jantung.

Seminggu sebelum meninggal, Jojon tampak sehat. Bahkan masih kuat menjalani syuting sinetron kejar tayang Mak Ijah Pengen ke Mekkah yang  tayang setiap hari di SCTV.

Baru pada Senin, 3 Maret 2014, kesehatan Jojon melemah dan harus dibawa ke Rumah Sakit Ramsey Premier, Jatinegara, Jakarta Timur. Jojon merajuk minta dibawa ke rumah sakit. Asma yang 30 tahun lebih bersarang di tubuhnya itu membuat Jojon memutuskan untuk menginap di rumah sakit.

Tiga hari menginap di rumah sakit, kondisi Jojon semakin menurun. Puncaknya pada Kamis (6/3/2014) dini hari.  Jojon mengalami koma yang membuatnya tak sadarkan diri.

“Saya ditelepon 'cepat ke sini (rumah sakit), papa nih, cepat ke sini'. Jadi jam 23.00 WIB, saya langsung ke sana. Jam 1.00 WIB dia koma, labil jantungnya," kata Adi Jojon, anak sulung Jojon.

Sesaat sebelum wafat, semua anggota keluarga berkumpul di Rumah Sakit. Mereka menunggui Jojon hingga pagi hari. Akhirnya pada pukul 6.10 WIB, nyawa Jojon tak tertolong. Pelawak yang dikenal dengan kumisnya itu menghembuskan napas yang terakhir. Tangis keluarga pun  pecah melepas kepergian kepala keluarga yang dihormatinya.



Jenazah kemudian diantar ke rumah duka di Imperial Golf Estate, Sentul City, Kabupaten Bogor. Setelah di semayamkan selama dua jam, jasad Jojon dibawa ke Masjid Al Munawwarah untuk disalatkan.

Pada pukul 13.20 WIB, mobil ambulans pembawa jenazah Jojon tiba di TPU Kebon Pedes, Bogor, Jawa Barat. Jasad Jojon pun dikebumikan.

Selamat Jalan Sahabat.



TPU Blender Tempat Peristirahatan Terakhir Jojon

Ratusan pelayat yang bercampur dengan warga sekitar memadati Tempat Pemakaman Umum (TPU) Blender, Kelurahan Kebon Pedes, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor, untuk menghadiri dan memberikan penghormatan terakhir terhadap mendiang komedian senior Jojon yang dikuburkan hari ini, Kamis, 6 Maret 2014, siang.

Warga sekitar mengaku semasa hidupnya almarhum Jojon sering ke TPU Blender bersama keluarganya karena di sana termasuk tempat pemakaman keluarga Jojon juga.



"Saat itu, Jojon masih jaya-jayanya di dunia hiburan. Karena dikerubuti warga yang ingin foto bareng dan salaman, anaknya sempat jatuh kegulung warga hingga terpaksa dibawa ke rumah sakit. Nah, sejak itulah almarhum sudah enggak pernah datang ke sini lagi," kata Romlah, pemilik warung yang tak jauh dari tempat dimakamkannya jenazah Jojon.

Antusiasme warga sekitar untuk melihat jenazah Jojon dimakamkan terlihat di pintu masuk hingga sekitar liang lahat yang sudah digali petugas TPU. Mereka yang didominasi perempuan, ibu-ibu dan anak-anak datang sejak pagi hingga jenazah tiba sekitar pukul 13.00 WIB. Jenazah datang didampingi oleh rombongan keluarga beserta sejumlah artis, seperti Deswita Maharani, Eko Patrio, Akri Patrio, Tukul Arwana, Tarsan, Dorce, dan lainnya.


“Jojon adalah Guru Besar Pelawak”

Doyok merupakan salah satu pelawak yang mengenal Jojon sejak lama. Ia berkata jika Jojon merupakan pelawak senior yang juga adalah guru besarnya.

“Saya kenal sejak tahun 80’an dengan almahrum. Beliau adalah senior kita, guru besar dan juga bapak kita yang sering memberikan pelajaran dari segi rumah tangga, profesi. Kita sangat kehilangan sosok seniman pelawak yang sangat multitalenta, legendaries,” kata Doyok.



Doyok berdoa untuk sang sahabat agar Jojon dilapangkan kuburnya dan diampuni segala khilaf dan dosa saat hidup.

“Semoga beliau diterima di sisiNya dan yang ditinggalkan diberi ketabahan,” doa Doyok.




Sabtu, 08 Maret 2014

Dua Ciri Khas Jojon



Kumis dan Celana Ngatung

Penampilan Jojon dengan kumis ala Charlie Chaplin menjadi pembeda Jojon dengan pelawak lainnya. Bukan hanya itu, mengenakan celana gombrong di atas udel dan ngatung juga menjadi ciri khas Jojon.
“Dulu saya itu ganteng. Awal saya mau ngelawak, bingung mau gimana . Terus saya bercermin dan coret-coret ini,” kata Jojon sambil menunjuk kumisnya.


“Sudah pakai kumis terus saya berpikir bisa menyatu nggak nih jiwa saya dengan kumis. Pas saya pakai kumis, terus main, ternyata orang senang dan ketawa,” kata Jojon bercerita saat menjadi bintang tamu acara Bukan Empat Mata.

Displin dalam Bekerja
Cahyono bercerita jika Jojon semasa hidup adalah seorang pelawak yang disiplin dan profesional dalam bekerja. Sebagai ketua dan sutradara grup Jayakarta, Cahyono mengaku senang bekerja sama dengan Jojon.  
“Jojon itu serius banget menghayati perannya. Dia professional, disiplin, tiada duanya. Pintar dan alami. Saya sebagai sutradara senang sekali,” .
Selain itu, Jojon merupakan sosok periang dan bijaksana. “Dia gembira terus.  Dia juga orang yang bijaksana, kalau saya emosi dia yang suka meredakan emosi saya. Dia bilang ‘No kerjaan kita menghibur orang. Kita juga harus bahagia’,” kata Cahyono mengenang sosok Jojon.
Ucapan Cahyono juga diamini Henny, istri Jojon. “Dia sangat disiplin dan serius dalam pekerjaan,” kata Henny.


Jojon Membimbing Cahyono

Setelah vakum dari kegiatan lawak, pendiri Jayakarta Grup, Cahyono meluangkan waktu dengan lebih banyak menjadi pendakwah. Sebelumnya Cahyono beragama Nasrani. Ia mengaku mengenal Islam lewat teman-temannya di Jayakarta Grup. Saat pertama kali memeluk agama Islam, Cahyono dibimbing oleh  Jojon.
“Jojon itu lulusan Ponpes Wanaraja. Nah dialah yang menjadi guru ngaji saya pada awal-awalnya (masuk islam).” Kata Cahyono.
Cahyono bercerita jika ia yakin untuk memeluk agama Islam ketika suatu malam, ia bermimpi. ”Mungkin mimpi ini yang lantas mengubah pendirian saya,” kenangnya.
Dalam mimpinya, dia bertemu dan dikejar-kejar mahluk mengerikan. Saking takutnya, Cahyono berdoa dan menyebut nama Tuhannya. Namun mahluk itu justru bertambah besar. Semakin lantang disebut nama Tuhannya, sang mahluk makin membesar.





”Pada kondisi yang putus asa, saya teringat nama tuhannya Jojon. Sekonyong-konyong, saya takbir dalam mimpi itu, Allahuakbar, dan seketika lenyaplah mahluk tadi,”kisahnya.
Paginya, Cahyono langsung menemui Jojon. ”Tuhanmu manjur Jon,” katanya.
Pada tahun 1992, Cahyono resmi memeluk agama islam dibimbing Jojon.

Kamis, 06 Maret 2014

Jojon dalam Kenangan


Pelawak senior Jojon dikenal dengan ciri khas celana ngatung dan kumis ala Charlie Chaplin. Ia menghembuskan nafas terakhir pada Kamis 6 Maret 2014 diusia 66 tahun karena menderita penyakit jantung dan asma. Ia adalah pelawak yang eksis sejak tahun 1970’an. Selain merambah dunia lawak, Jojon juga merambah dunia layar lebar dan tarik suara. Ia juga sempat menjadi produser musik. Berikut kisahnya.

Terkenal Lewat Jayakarta Grup

Jojon terlahir di Karawang, 5 Juni 1947 dengan nama Djuhri Masdjan. Istrinya bernama Henny Mariana. Dari pernikahannya, Jojon memiliki tujuh anak.
Nama Jojon mencuat pada tahun 1970’an saat bergabung dengan grup lawak Jayakarta Grup bersama Uu, Ester, dan Cahyono. Grup itu sangat popular di masyarakat. Namun pada tahun 1990’an, grup itu bubar karena personelnya memilih jalur solo.


Sebelum bergabung dengan grup Jayakarta,  Jojon sudah akrab dengan dunia kesenian. Ia menekuni dunia kesenian reog dan ludruk.
“Jadi sebelum saya di jayakarta, saya di reog dulu,” kata Jojon semasa hidup.
Jojon merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia sewaktu kecil bercita-cita menjadi tentara karena sering bermain perang-perangan dengan kawan-kawannya.

Cita-cita Jojon menjadi tentara dilarang ibunya. Ia pun memilih untuk berkesenian dengan bermain Reog. "Ibu saya melarang saya untuk jadi tentara," kata Jojon semasa hidup.  
Singkat cerita Jojon mengadu nasib ke Jakarta berawal dari saran temannya. Di Jakarta, ia bertemu dengan Cahyono. Kemudian dengan Ester dan Uu mereka membentuk grup lawak bernama Jayakarta di mana Cahyono sebagai sutradara dan juga pemainnya.

Bisa Bersaing dengan Pelawak Muda

Di tengah persaingan industri hiburan, Jojon yang sudah tidak bersama grup lawaknya, Jayakarta grup masih terus eksis dengan membintangi berbagai program tv. Dia juga pernah bermain film dan sinetron.
Beberapa judul film yang dibintanginya adalah Tiga Dara Mencari Cinta (1981), Apa Ini Apa Itu (1981), Okey Boss (1981), Barang Antik (1983), Vina Bilang Cinta (2005), Setannya Kok Beneran ? (2008), Doa yang Mengancam (2008), Mau Dong Ah (2009), Badai di Ujung Negeri (2011). Jojon juga  pernah mengeluarkan album pop Sunda berjudul Pamali.
Jojon belum lama ini sering nongol di televisi membintangi sinetron Mak Ijah Pengen Naik Haji yang tayang di SCTV.





Menurut Jojon, kunci suksesnya terus bisa eksis sampai ajal menjemput adalah dengan terus belajar menutupi kekurangan.
"Seni itu tidak memandang tinggi rendah, besar kecil. Seni itu luas. Makanya kita harus terus belajar kekurangan kita. Jangan pernah berpikir aku sudah mampu, aku sudah pinter. Itu nggak ada. Menjadi seniman itu pasti ada kekurangan. Makanya belajarlah dalam kekurangan. Terutama saling menghormati. Walaupun seniman itu masih kecil. kita harus hargai," kata Jojon.