Senin, 18 November 2013

Perginya Sang Kyai Muda

Perginya Sang Kyai Muda

Gema takbir menjadi doa ditasbihkan ribuan umat, ketika mengatarkan Ustad Jefri ke balik makam. Entah dari mana datangnya. Kala itu Mesjid Istiqlal, Jakarta Pusat, dipadati ribuan orang bergamis putih untuk berdoa dan mensholatkan Kyai muda ini. Ya, ustad Jefry Al Buchory (Uje) menghembuskan nafas terakhir diusia 40 tahun dalam sebuah kecelakaan tunggal saat mengendarai motor di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, 26 April 2013 dini hari sekitar pukul 2.00 Wib. Pipit sang istri sangat terpukul jiwanya, tak ada tanda – tanda yang mengingatkan dirinya ketika kekasih hati abadinya ini akan pergi selamanya kepangkuan Ilahhi Rabbi. 

Air Mata Pipik

Air mata Pipik Dian Irawati tak henti mengalir disaat mendapat kabar duka sang suami telah tiada. Bahkan hingga mengantar Jenazah ke liang lahat, Pipik masih tak percaya jika Uje sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Peci putih kesayangan suami terus digenggam, berkali-kali Pipik menangis mencium foto suaminya. Pukulan berat ditinggal wafat suami, membuat Pipik terkulai lemah di pusara suaminya. Saat tanah kuburan sempurna menutupi jenazah, Pipik yang tak kuasa menahan pedih, ia pun pingsan.“Aku percaya Abi (panggilan sayang Pipik kepada Uje-red) hanya pingsan, belum meninggal,” kata Pipik.

Terus berada dalam kesedihan membuat kondisi badannya lemah. Terlebih ia juga ikut mengurusi berbagai kegiatan tahlilan selepas Uje meninggal. Kondisi itu, membuat Pipik sempat jatuh sakit.  Selang berapa lama, Pipik pun mulai tegar dan mengikhlaskan kepergian sang suami. Namun kenangan indah bersama suami semasa hidup, tak dipungkirinya membuat buliran air mata tanpa terasa membasahi pipi. 

Apalagi, disaat Ramadan menjelang. Ia harus menerima kenyataan menjalani ibadah puasa untuk pertama kali tanpa kehadiran suami di sisi. “Kangen buka puasa dan sahur bersama, kangen juga suara ngajinya beliau (Uje). Beliau kan yang jadi imam. Suaranya lah yang bikin kangen,” ucapnya.

Seakan ingin menghibur istri yang tengah dirundung duka, Pipik bercerita jika ia sering dihibur mendiang suami di alam mimpi.  “Beliau senyum dan terlihat senang. Mimpi jalan-jalan sama anak-anak, romantis banget. Aku sampai tidak mau terbangun dalam tidurku,” kata Pipik.











Pipik  Tak Mau Menikah Lagi


Sepeninggal suami, Pipik mengaku tidak ingin melepas status janda dalam dirinya. Ia memilih setia sampai akhirnya ajal juga menjemputnya. Yang terlintas dalam benaknya  adalah bagaimana mengabdi kepada Allah SWT dan membesarkan anak-anaknya.

“Karena saya dipisahkan dengan kematian, jadi insya Allah saya jadi yang terakhir buat almarhum. Saat ini saya kepengin mengabdi sama Allah dan anak-anak saja. Itu saja buat saya cukup,” ungkapnya.

Bukti pendiriannya yang kuat sempat diuji saat menjalani masa Iddah, Pipik memilih tak keluar rumah, bahkan berbagai tawaran main film, sinetron dan mengisi talk show di berbagai stasiun televisi ditolaknya. Ia ke luar rumah, itu pun karena kondisi yang mendesak disaat dirinya terserang typus yang harus membuatnya menjalani perawatan selama beberapa hari di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. “Memang  sempat down, setelah kepergian beliau (Uje), down sekali. Makin ke sini, hati ini terus ditempa. Sebuah besi yang mau jadi pisau, memang harus dibakar, ditempa sampai akhirnya jadi benda yang bermanfaat. Itulah aku," katanya.

Pipik Mulai Berdakwah

Selesai menjalani masa iddah selama empat bulan, Pipik mulai merajut hidupnya dengan menjalani aktivitas di luar rumah. Berbekal ilmu agama yang dimiliki, Pipik berniat meneruskan perjuangan almahrum Uje  untuk mensyiarkan agama Islam.Pilihannya sudah mantap. Bahkan, berbagai tawaran bermain untuk sinetron maupun film ditolaknya. “Banyak sekali (tawaran sinetron dan film), cuma saya nggak mau,Saya maunya syiar aja,” kata Pipik.

Pipik mengaku sudah banyak tawaran untuk mengisi siraman rohani di berbagai tempat di Jakarta maupun di luar ibukota. Meski akan disibukan dengan kegiatannya mengisi tausyiah di berbagai majlis taklim, Pipik yang kini menjadi tulang punggung keluarga, tetap tak melupakan kodratnya sebagai seorang ibu untuk merawat tiga anaknya,"Kalau di luar daerah saya mintanya Sabtu dan Minggu saja, sekalian ajak anak-anak," paparnya.

Konflik Keluarga

Sepeninggal Uje, hubungan Pipik dengan Umi Tatu Mulyana, ibu mertuanya  terlihat tidak harmonis. Silang pendapat pembuatan film hingga pemugaran kuburan seolah menyiratkan adanya konflik di antara mereka.

Konflik itu semakin terlihat jelas disaat Umi Tatu memugar makam Uje dengan marmer dan beton setinggi paha orang dewasa tanpa sepengetahuan Pipik,“Jujur saya tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan, Allah juga tidak suka sesuatu yang berlebihan, rasul juga tidak suka. Kalau dipandang juga tidak enak dengan makam di sekitarnya,” kata Pipik.

Namun Pipik pasrah. Ia tak mau konflik itu semakin membesar yang mengakibatkan perpecahan dalam keluarganya. Akhirnya,Pipik menyerahkan segala keputusan mengenai makam suaminya itu kepada sang ibu mertua.  “Aku tidak pernah melarang, terserah mereka saja,” kata  Pipik.

Seolah mendapat jawaban atas persoalan tersebut, pihak Pemda DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Pertamanan dan Pemakaman  melayangkan surat teguran jika makam yang sudah dipugar itu dinilai menyalahi aturan Perda Nomor 3 tahun 2007 tentang pemakaman.

Minggu, 17 November 2013

Bidadari Surgaku……



Hatimu tempat berlindungku
Dari kejatahan syahwatku
Tuhanku merestui itu
Dijadikan engkau istriku
Engkaulah…… Bidadari surgaku
Rabbana Hablan Min Azwajina
Wa Zurriyatina Qurrata A’ayun
Wajaalna Lill Mutagina
Immama…….
Immama……
Immama….
Bidadari Surgaku……



 Sosok perempuan  setia yang  menemani almahrum Uje dalam suka maupun duka semasa hidup. Dalam kondisi apapun mereka tetap bersama. Kesetiaan adalah kemurnian cinta mereka.  Mengsyukuri segala nikmat yang datang dan pergi, hanya dia yang mampu memahami. Perempuan itu  adalah Pipik Dian Irawati, seorang model gadis sampul sebuah majalah remaja tahun 1995, asal Semarang. Menjadi mendamping setia Ustad Jefri hingga penutup waktu. Pipik bagaikan bidadari yang turun dari surga.  Bagaimana romansa Uje dengan Pipik, yuk kita simak.

Cuek Saat Pacaran
Pipik bertemu Uje pertama kali saat makan nasi goreng di kawasan Menteng , Jakarta Pusat saat diajak Gugun Gondrong, temannya. Ia menerka-nerka saat pertemuan itu berkisar antara tahun 1996-1997. “Rambutnya (Uje) gondrong. Waktu itu, aku bersama Gugun Gondrong. Setahuku, Abi (panggilan Pipik kepada Uje-red) adalah pemain sinetron Kerinduan, karena aku mengikuti ceritanya. Aku ingin berkenalan dengannya, tapi Gugun melarangku,” kata Pipik mengenang.

Dasar jodoh, tak lama waktu berselang Tuhan kembali menemukan dirinya dengan Uje. Pertemuan kedua tak disia-siakan Pipik. Singkat cerita mereka pun menjadi dekat. “Tak tahunya, waktu buka puasa bersama di rumah Pontjo Sutowo, aku bertemu lagi dengannya. Rambutnya sudah dipotong pendek. Aku nekat berkenalan. Kami mulai dekat dan saling menelepon,” kata Pipik.

Pipik bercerita tak ingat resmi pacaran, karena mereka nggak pernah mengungkapkan kata “jadian”. “Dia tak pernah menyatakan cinta. Waktu jalan berdua, dia cuek setengah mati,” kata Pipik .
Pipik hanya teringat disaat perjuangan suaminya kala mendekatinya. “Awalnya, semangatnya boleh juga. Pertama kami pergi bareng, dia datang ke rumah di Kebon Jeruk, di tengah hujan deras dari rumahnya di Mangga Dua. Abi naik taksi dengan memakai jins dan sepatu bot. Ia yang hanya bawa uang Rp 50 ribu, mengajakku nonton di Mal Taman Anggrek. Di dalam bioskop, kami seperti nonton sendiri-sendiri. Dia diam saja selama nonton. Sejak itu, kami sering jalan bareng, karena kami memang hobi nonton dan makan. Semakin dekat dengannya,”  paparnya.
Semakin dekat dengan Uje, ia pun mulai mengtahui kebiasaan buruk Uje yang suka mengkonsumsi narkoba. Namun, Pipik tak mau meninggalkan Uje karena suatu alasan. “Aku makin tahu ternyata dia pemakai narkoba kelas berat. Teman-temanku mulai bertanya, mengapa aku mau berpacaran dengannya. Aku sendiri tak tahu persis alasannya. Mungkin rasa sayang yang sudah terlanjur muncul dalam hati yang membuatku mau bertahan. Hatiku terenyuh dan tak mau meninggalkan dia sendiri,” ucapnya.

Singkat cerita, hubungan Pipik dan Uje kandas di tengah jalan. Bukan karena Uje yang kerap mengkonsumsi narkoba. Tapi karena Pipik yang saat itu sibuk tur ke luar kota sebagai model. Sehingga jarang bertemu.“Akhirnya kami putus. Tapi  waktu juga akhirnya mempertemukan kami lagi, ternyata dia sudah punya pacar lagi. Karena masih sayang, aku sering membawakannya hadiah dan memberi perhatian. Setelah Abi putus dari pacarnya, kami kembali bersatu,” tutur Pipik.


Merasa cocok dan untuk menghindari maksiat, Uje yang kala itu belum memiliki pekerjaan dan masih kecanduan narkoba, nekat melamar Pipik dengan restu Umi. Pada tahun 1999, Uje dan Pipik resmi menikah di bawah tangan. Uje pun memboyong Pipik ke rumah Umi Tatu Mulyana, ibunya.
“Sekitar 4 sampai 5 bulan setelah itu, kami menikah secara resmi di Semarang,” kata Uje semasa hidup.
Saat itu, menjalani hidup berumahtangga dirasa sulit bagi Uje dan Pipik. Maklum, mereka tidak punya pekerjaan. Akhirnya berbagai pekerjaan pun dilakoni, termasuk berjualan kue. “Pernah kami mencoba berdagang kue. Malam hari kami menggoreng kacang, esok paginya bikin kue isi kacang dan susu. Lalu kami titipkan ke toko kue. Tapi mungkin rezeki kami bukan di situ. Kue yang kami buat hanya laku beberapa buah. Dalam sehari kami hanya membawa pulang Rp 200 – 300. Akhirnya kami berhenti berjualan kue. Kehidupan kami selanjutnya kami jalani dengan penuh perjuangan sekaligus kesabaran,” kata Uje.

Menikah rupanya tak cukup menghentikan kebandelanku. Istriku pun merasakan getahnya. Aku pernah memakai narkoba di depannya, dan menggunakan uangnya untuk membeli barang haram tersebut
Sementara Pipik mengamini cerita Uje.  Ia merasakan berbagai kesulitan saat baru baru membina rumahtangga. “Aku dan Abi tak jarang makan sepiring berdua, karena memang benar-benar tak ada yang bisa dimakan. Berat rasanya jadi istri dari suami penganggur, apalagi setelah menikah aku tidak lagi bekerja,“Tapi aku yakin, Allah tidak mungkin memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi kemampuannya. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang akan diberikan Allah padaku. Aku sendiri tak jera memberi masukan padanya untuk mengubah hidup. Kami sama-sama saling belajar menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Pelan-pelan, hidupnya mulai berubah menjadi lebih baik, terutama setelah aku hamil,” kenang Pipik.

HIDUP DI JALAN ALLAH

Seiring berjalan waktu, Uje yang lama melenceng dari ajaran agama, mulai kembali dekat dengan agama.  Keluarga yang sudah melihat Uje benar-benar tobat, memberi kesempatan Uje untuk mengisi tausiyah. Adalah Fathul Hayat, kakak kedua Uje yang memberikan jalan untuk Uje mulai berceramah. Pengalaman pertama Uje berceramah ialah mengisi khotbah Jum’at. Setelah itu, Uje pun mulai menjadi penceramah dari majlis taklim satu ke majlis taklim lainnya,“Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama. Perubahan besar terjadi dalam hidupku pada tahun 2000. Kala itu, Fathul Hayat, kakak keduaku memintaku menggantikannya memberi khotbah Jumat di Mangga Dua. Pada waktu bersamaan, dia diminta menjadi imam besar di Singapura. Selama dia di Singapura, semua jadwal ceramahnya diberikan padaku. Pertama kali ceramah, aku mendapat honor Rp 35 ribu. Uang dalam amplop itu kuserahkan pada Pipik. Kukatakan padanya, ini uang halal pertama yang bisa kuberikan padanya. Kami berpelukan sambil bertangisan,”kenang Pipit.

Namun tidak semudah membalikan telapak tangan. Penolakan juga sering dialami Uje ketika mengisi tausiyah. “Aku mulai berceramah dan diundang ke acara seminar narkoba di berbagai tempat. Namun, perjuanganku tak semudah membalik telapak tangan. Tak semua orang mau mendengarkan ceramahku karena aku mantan pemakai narkoba. Tapi aku mencoba sabar. Alhamdulillah, makin lama ceramahku makin bisa diterima banyak orang. Bahkan sekarang, aku banyak diundang untuk ceramah di mana-mana, termasuk di luar kota dan stasiun teve. Aku bersyukur bisa diterima semua kalangan. Aku pun ingin berdakwah untuk siapa saja. Aku ingin punya majelis taklim yang jemaahnya waria. Mereka, kan, juga punya hak untuk mendapatkan dakwah,” tutur Uje.

Kembali ke cerita cinta Ustad Jefri, perjalanan hatinya akhirnya berjalan dengan sempurna. Nama besarnya di dunia syiar menjadi begitu besar. Setiap umat merindukan suara syahdu Uje ketika berceramah. Sebagai ulama, Uje bukan hanya piawan  mengajak jama’ahnya untuk kembali ke jalan Tuhan. Suara indahnya dalam melantunkan bait –bait Alqur’an juga sangat menyentuh hati siapapun.
Begitu juga dalam menjaga kebahagian rumah tangganya. Kehidpan pribadinya jauh dari berita – berita negatife. Uje  tetap setia dengan  satu istri sebagai pendamping abadinya.  Dan,  dikarunia putra putri Adiba Khanza Az-Zahra, Mohammad Abidzar Al-Ghifari,  Ayla Azuhro, dan Attaya Bilal Rizkillah.

Cinta sejati adalah cinta yang tahan uji. Cinta sejati dipisahkan oleh kepergian yang abadi. Ustad Jefri adalah sosok manusia yang telah melewati dunia hitam dan putih. Sehingga syiarnya dilayar televisi adalalah pengalaman hidupnya  yang dia lewati. Ustad Jefri akhirnya pergi, pejamnya abadi, raga terkunci. Inilah cerita penutup nanti…


Jumat, 15 November 2013

Dua Sisi Kehidupan Ustaz Jefry Al Buchori




Perjalanan hidup Jeffry Al Buchori sungguh dahsyat. Penuh gejolak dan tikungan tajam. Proses pergulatan yang luar biasa sampai akhirnya ajal menjemput dengan khusnul khatimah, insyaAllah, Amiin.  
Simak kisahnya yang sangat memikat dan inspiratif untuk dibaca, mulai nomor ini.

Terlahir Dari keluarga yang Taat Beragama
Ustaz Jeffry Al Buchori atau kerap disapa Uje terlahir dari keluarga yang taat beragama. M. Ismail Modal dan Tatu Mulyana, orangtuanya sangat keras dalam mendidik Uje dan keempat saudaranya menyangkut hal agama.  “Dalam hal agama, Apih (panggilan Uje kepada ayahnya) dan Umi (panggilan Uje kepada ibunya ) memang mendidik kami secara ketat. Kalau lupa menjalankan salat dan mengaji, jangan tanya hukuman apa yang diberikan,” kata Uje semasa hidup.
Namun begitu, sebetulnya Umi adalah seorang ibu yang amat sabar dan lembut dalam menghadapi anak-anaknya. Apih pun orang yang selalu bersikap obyektif. “Dia akan membela keluarganya mati-matian bila memang keluarganya yang benar. Sebaliknya dia tidak segan-segan menyalahkan bila kami memang berbuat salah,” tuturnya.
Berada di lingkungan keluarga yang taat agama, membuat Uje menyukai pelajaran agama sejak kecil.  Sewaktu kelas 5 SD, ia sudah mengasah kemampuan dengan ikut kejuaraan MTQ sampai tingkat provinsi. “Selain agama, pelajaran yang juga kusukai adalah kesenian. Entah mengapa, aku suka sekali tampil di depan orang banyak. Oh ya, setelah kenaikan kelas, dari kelas 3 aku langsung melompat ke kelas 5. Jadilah aku sekelas dengan kakakku yang kedua,” .
Uje yang bernama lengkap Jeffry Al Buchori Modal lahir pada 12 April 1973 di Jakarta. Uje adalah ke-3 dari lima bersaudara. Tiga saudara kandung laki-laki, dan satu adik perempuan. M. Ismail Modal adalah orang Ambon. Sedangkan Tatu Mulyana orang Banten.


BERKEPRIBADIAN GANDA
Untuk mengasah kemampuan agama, setelah lulus SD, Uje bersama dua kakaknya dimasukan ke sebuah pesantren modern di Balaraja, Tangerang, Banten.
Layaknya anak yang ingin mengetahui banyak hal, Uje mengaku haus akan ilmu agama. Namun tak hanya itu saja, ia juga haus akan kehidupan di luar pondok pesantren. Akibatnya, ia menjadi lupa diri dan selalu melakukan kesalahan.  “Kabur dan bolos dari pesantren untuk main atau nonton di bioskop adalah hal biasa. Sebagai hukumannya, kepalaku sering dibotaki. Tapi, tetap saja aku tak jera,” ucapnya.
Kendati kerap melakukan berbagai kenakalan, Uje kecil yang beranjak remaja merasa aneh pada dirinya sendiri. Ia mengaku tak bisa seperti memiliki kepribadian ganda.   “Di satu sisi aku nakal, di sisi lain keinginan untuk melantunkan ayat-ayat suci begitu kuat. Tiap ada kegiatan keagamaan, aku selalu terlibat. Bersama kedua kakakku, aku juga pernah membuat drama tanpa naskah berjudul “Kembali Ke Jalan Allah” yang diperlombakan di pesantren. Ternyata karya kami itu dinilai sebagai drama terbaik se-pesantren. Bahkan, aku juga juara lomba azan, lomba MTQ, dan qasidah. Akan tetapi, entah kenapa, aku juga tak pernah ketinggalan dalam kenakalan,” tuturnya.
Kenakalan Uje kian menjadi. Sampai akhirnya rasa bosan menimba ilmu agama di pondok pesantren melanda jiwa. “Akhirnya, hanya empat tahun aku di pesantren. Dua tahun sebelum menamatkan pelajaran, aku keluar. Lalu, Apih memasukkanku ke sekolah aliyah (setingkat SMA, Red.). Rupanya keluar dari pesantren tidak membuatku lebih baik. Aku yang mulai beranjak remaja justru jadi makin nakal,” tuturnya.


Pencarian Jati Diri Dengan Narkoba
Masa SMA, uje mengaku kehidupannya semakin suram. Pergaulannya yang salah, membuat kenakalannya dirasa kian menjadi. gonta ganti pasangan,  narkoba dan dunia malam digelutinya.
“Ya, aku seperti burung lepas dari sangkar, terbang tak terkendali. Aku masuk sekolah hanya saat ujian. Buatku, yang penting lulus. Aku lebih suka mendatangi diskotek untuk menari. Terus terang, aku memang tertarik pada tarian di diskotek. Tiap ke sana, diam-diam aku selalu mempelajari gerakan orang-orang yang nge-dance. Lalu kutirukan,” ucapnya.
“Saat ada lomba dance, aku mencoba ikut. Usahaku tak sia-sia. Beberapa kali aku berhasil memboyong piala ke rumah sebagai the best dancer. Selain itu, aku juga berhasil jadi penari di Dufan pada tahun 1990,” lanjutnya.
Dunia malam mengantarkan Uje menjadi penari. Tak hanya itu, Uje juga mencoba pengalaman baru dengan menjadi model catwalk dan foto model.
“Aku juga pernah jadi foto model, bahkan ikut fashion show di diskotek. Mungkin waktu itu aku merasa sangat cakep, ya. Tapi menurutku, kegiatan-kegiatan itu masih positif, meski terkadang aku suka minum. Dengan segala kebengalanku. Tahun 1990 aku berhasil lulus SMA,” paparnya.



Menjadi Pesohor  Adalah Mimpi Uje
Tamat SMA, Uje mulai merambah dunia seni peran. Melalui temannya yang juga penari, ia bertemu Aditya Gumai, pendiri sanggar  Ananda yang sangat berperan penting bagi kariernya di dunia seni peran.

 “Dari Aditya aku mengenal dunia akting. Aku diajak Aditya main sinetron. Waktu dikasting, aku berhasil mendapat peran,” tuturnya.
Mulanya Uje mengaku hanya senang mengamati para pemain yang sedang syuting, sambil diam-diam mempelajari berbagai karakter yang sedang dimainkan. dengan berbekal kemampuan otodidak, tahun 1990, Uje main sinetron "Pendekar Halilintar" menyusul sinetron drama "Sayap Patah", "Sebening Kasih", "Opera Tiga Jaman", dan Kerinduan.
“Nah, ketika para pemain sinetron sedang latihan, terkadang aku menggantikan salah satunya. Ternyata aku ditertawakan. Karena pada dasarnya aku orang yang enggak suka diperlakukan seperti itu, aku malah jadi terpacu. Aku makin giat berlatih akting secara otodidak. Akhirnya, saat yang senior belum juga dapat giliran main, aku sudah mendapat peran,”
Niat membuat senang orangtua ternyata tak sesuai harapan. Sang ayah menentang pilihan Uje menggeluti dunia seni peran. "Rupanya Apih tahu persis seperti apa lingkungan dunia film. Dulu, beliau juga pernah main film action, antara lain Macan Terbang dan Pukulan Berantai. mungkin dari beliaulah aku menuruni darah seni," katanya.
Meski begitu, langkah Uje untuk menyelami dunia akting tak surut. Sebagai bentuk perlawanan kepada orangtua, Uje tak pernah pulang ke rumah. 
"Nasihat Apih tak lagi kudengarkan. Tawaran untuk main sinetron yang berdatangan membuatku makin yakin, inilah yang kucari. Aku tak mau menuruti keinginan orang tua karena merasa diriku benar. Akhirnya konflik antara aku dan orang tuaku pecah," Aku semakin merasa pilihanku tak salah setelah dinobatkan sebagai Pemeran Pria Terbaik dalam Sepekan Sinetron Remaja yang diadakan TVRI tahun 1991.
 Aku bangga bukan main, karena merasa menang dari orang tua. Kesombonganku makin menjadi. Aku makin merasa inilah yang terbaik buatku, ketimbang pilihan orangtuaku," paparnya
Bisa mencari uang sendiri,  semakin membuat Uje lupa diri. Foya dan hura di discotek menjadi kebiasaannya kala itu. "Kalau ke diskotek, aku tak lupa mengonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Biasanya, aku meminum satu pil dulu. Kalau kurasa belum “on”, kuminum satu lagi. Begitu seterusnya," paparnya.



Ketika Apih Pergi
Pukulan berat menimpa. Suatu hari di tahun 1992, ayah Uje meninggal karena sakit. Penyesalan begitu besar  kala itu seperti menghantui.  "Bukan main menyesal karena selama ini selalu mengabaikan nasihat Apih. Allah mengambilnya. Aku syok berat. Saat Apih dimakamkan, aku turun ke liang lahat dan memeluk jasadnya. Aku tak mau beranjak meski makam akan ditutup. Aku tak mau melepas kepergiannya,"ucapnya.
Penyesalan yang sebelumnya begitu besar  karena ditinggal ayah pergi ternyata hanya sesaat. Uje mengaku kembali lagi ke dunia kelam. Bahkan semakin parah dan parah.
"Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Quran seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan aku hampir mati. Kejahatan demi kejahatan moral terus kulakukan," paparnya.



Umi Tetap Sabar
Suatu ketika pengaruh narkoba membuat Uje paranoid.  Dirinya terus  mengurung diri di kamar. ia selalu berpikir jika ada orang yang ingibn membunuhnya."Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila," ucapnya.

Pada saat bersamaan,  namanya dicoret dari dunia sinetron. "Tak ada lagi yang mau memakaiku sebagai pemain. Selain itu, teman-temanku dan cewek-cewek yang ada di dekatku juga menjauh. Dulu aku termasuk playboy,"
Disaat seperti itu, ada satu orang yang tak pernah meninggalkannya yakni ibunya. "Umi yang selama ini sudah sangat sering kusakiti hatinya. Umi tetap menyayangiku dengan cintanya yang besar. Seburuk apa pun orang berkomentar tentang aku, hati Umi tetap baik dan sabar. Air matanya tak pernah kering untuk mendoakan anak-anaknya, terutama aku agar berubah jadi lebih baik,"
Seiring waktu keajaiban datang, uje akhirnya tersadar dengan meninggalkan dunia kelam.
"Doa tulus Umi dikabulkan Allah.
Sungguh luar biasa, Allah menunjukkan kebaikan-Nya padaku. Allah memberiku kesempatan untuk bertobat. Kesadaran ini muncul lewat suatu proses yang begitu mencekamku. Sungguh, aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi,"Akhirnya aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Aku menemui Umi, bersimpuh meminta maaf atas semua dosa yang kulakukan. Umi memang luar biasa. Betapa pun sudah kukecewakan demikian rupa, beliau tetap menyayangi dan memaafkanku. Umi lalu mengajakku berumrah," tutur Uje semasa hidup.


Kisah selanjutnya, Uje bertemu dengan seorang perempuan, tanpa mengatakan cinta Uje dan Pipik akhirnya menikah, seperti kata pepatah cinta itu tidak perlu diungkapkan lewat kalimat tetapi akan lebih sempurna jika dibuktikan lewat perbuatan dan tanggung  jawab. Kesabaran Pipik menjadi muara perubahan untuk kehidupan Uje. Cinta, ketabahan dan kesabaran akhirnya menghadirkan kebahagian, seperti lagu yang ditulis Uje. Pipit bagaikan bidadari yang turun dari surga